Pedagang Keluhkan Aturan Harga Pangan Sesuai HET

Editor: KRjogja/Gus

SUKOHARJO (KRjogja.com) – Harga Eceran Tertinggi (HET) kebutuhan pangan wajib diterapkan semua pedagang menyesuaikan kebijakan pemerintah pusat mulai 1 April. Dalam pelaksanaanya kemungkinan akan mengalami kendala dan sulit diterapkan mengingat pedagang sudah mendapatkan barang dengan harga tinggi. 

Pemkab Sukoharjo sendiri akan melakukan pengawasan ketat demi stabilitas stok dan harga kebutuhan pangan menjelang puasa Ramadan dan Lebaran.

Asisten II Sekda Sukoharjo Widodo, Selasa (10/4) mengatakan, sudah mengetahui adanya kebijakan baru dari pemerintah pusat berkaitan dengan penerapan HET kebutuhan pangan. Hal itu diterapkan sebagai bagian dari pengamanan stok dan harga kebutuhan pangan menjelang puasa Ramadan dan Lebaran.

Terkait penerapan tersebut Pemkab Sukoharjo akan melakukan pengetatan pengawasan. Sasarannya semua pedagang baik di pasar tradisional, warung kelontong maupun toko modern. Mereka wajib menjual barang kebutuhan pangan sesuai ketetapan HET.

Dalam ketetapan HET tersebut pemerintah pusat menetapkan harga beras medium Rp 9.450 perkilogram, beras premium Rp 12.800 perkilogram, gula pasir Rp 12.500 perkilogram, minyak goreng kemasan Rp 11.000 perliter dan minyak goreng curah Rp 10.500 perliter. Harga tersebut dipakai sebagai acuran dan wajib ditaati semua pedagang. Apabila tidak atau pedagang menjual barang dengan harga lebih tinggi dari ketetapan HET maka akan mendapatkan sanksi tegas bentuknya baik teguran lisan, tertulis maupun larangan usaha.

"Kebijakan pemerintah pusat ini merupakan aturan baru dan masih kami pelajari dan sosialisasikan ke masyarakat. Hal itu penting karena ketetapan HET penting baik bagi pedagang maupun konsumen," ujar Widodo.

Salah satu pedagang di Pasar Ir Soekarno Sukoharjo Kota Wagiyem mengatakan, ketetapan HET dari pemerintah pusat terlalu memaksakan. Sebab harga barang kebutuhan pokok didapat dengan harga cukup tinggi. Kalau aturan HET diberlakukan maka pedagang tidak mendapatkan keuntungan justru merugi.

"Beras saja saya kulakan sudah tinggi diatas Rp 10.000 perkilogram dan saya jual selisih Rp 1.000 perkilogram atau seharga Rp 11.000 perkilogram. Kalau saya jual sesuai HET Rp 9.450 perkilogram saya jelas rugi. Pedagang tidak mau rugi," ujarnya. (Mam)

BERITA REKOMENDASI