Pekerja Anak di Karanganyar Ternyata Jadi Pemicu Putus Sekolah

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Fenomena anak putus sekolah terjadi di keluarga perantau dan penduduk di wilayah pinggiran Kabupaten Karanganyar. Anak-anak tersebut meninggalkan pendidikannya untuk mengikuti jejak orangtua bekerja.

“Ada beberapa faktor anak Karanganyar putus sekolah. Pertama, mereka tertarik mendapatkan uang dengan bekerja, setelah melihat orangtuanya begitu nyaman dengan pekerjaannya. Biasanya, ini dialami keluarga perantau. Saat liburan, anak-anak itu dibawa ke perantauan oleh orangtuanya. Lama kelamaan enggak balik lagi,” kata Ketua Komunitas Sekolah Inspirasi, Andriyatna Agung Kurniawan kepada KRJOGJA.com, Rabu (24/1/2018).

Faktor kedua pengaruh keluarga berpendidikan rendah pada anak. Orangtuanya menganggap pendidikan  sekadar bisa baca tulis dan berhitung sehingga pengetahuan di luar itu dianggap percuma. Usai memperoleh ilmu yang dibutuhkan, orangtua menghentikan kelanjutan pendidikan anaknya dan memintanya membantu ekonomi keluarga dengan bekerja.  

Sedangkan faktor ketiga terkait, minimnya infrastruktur pendidikan formal di wilayah pinggiran. Tak jarang siswa di daerah pedesaan harus bersusah payah menuju sekolahnya di kota kecamatan. Untuk pulang dan pergi ke sekolah dibutuhkan energi dan biaya yang tidak sedikit.  

“Mungkin di wilayah perkotaan banyak sekolah dasar, SMP dan SMA. Namun tidak begitu di wilayah perdesaan. Ada SD, namun SMP-nya jauh. Angkot juga enggak setiap saat lewat. Anak itu tidak memiliki sepeda motor atau bahkan belum cukup umur. Ini faktor penting yang perlu diseriusi pemerintah,” katanya.  

Komunitasnya berusaha memberi pemahaman kepada anak-anak rentan putus sekolah bahwa wajib belajar itu penting. Menurutnya, kesuksesan melalui jalur profesional jauh lebih memuaskan. Terlepas dari itu, ia mengapresiasi komitmen pemerintah kabupaten dalam menyelenggarakan pendidikan gratis di usia wajib belajar.  

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karanganyar, Agus Haryanto tak menampik adanya fenomena anak putus sekolah. Pada tingkat SD, ia mencatat 35 anak meninggalkan pendidikannya dari total 69.866 peserta didik sekolah dasar tahun 2017. Jumlah anak putus sekolah itu rata-rata sama tiap tahun.

“Umumnya mengikuti orangtuanya merantau. Tapi, orangtuanya enggak bilang ke sekolah mau dipindah kemana mereka,” katanya.

Ia juga membenarkan keberadaan gedung sekolah memang belum merata. Namun, dinasnya mengupayakan penggabungan gedung SMP dan SD di wilayah terpencil.

“Khususnya yang daerah itu sulit mengakses SMP, maka SD yang ada disana dijadikan satu gedung dengan SMP. Itu akan memudahkan anak-anak menjangkau sekolahnya,” kata agus. (Lim)

Baca Juga: Peminat Transmigrasi di Karanganyar Ternyata Cukup Banyak, Tapi…

BERITA REKOMENDASI