Pembukaan Akses Jalan Ledoksari – Nglurah Dikerjakan Manual

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Pembukaan akses jalan Ledoksari-Nglurah, Tawangmangu dikerjakan secara manual dengan mengerahkan sedikitnya 500 sukarelawan. Material longsor menutup total jalan penghubung antardusun itu.

“Apresiasi setinggi-tingginya kepada sukarelawan yang ikut membersihkan longsoran. Sudah ada 500 orang yang membantu tenaga. Baru satu dari tiga titik longsoran yang berhasil dibersihkan. Dengan memperhatikan swadaya masyarakat ini, kemungkinan jalan yang terputus Ledoksari-Nglurah bisa pulih dalam tiga hari ke depan,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Samsi.

Longsor bukit setinggi 5 meter menerjang jalan sepanjang 30 meter di lereng Lawu itu, Minggu (10/12/2017) malam. Selain memutus akses perhubungan, longsorannya juga mengancam puluhan rumah di bawah jalan tersebut.

Seratusan keluarga diperintahkan mengungsi saat itu. Mereka juga siap pindah sementara ke tempat lebih aman jika tebing masih kritis.

Pantauan KRJOGJA.com, ratusan sukarelawan itu menyingkirkan material berupa timbunan tanah dengan cara melarutkannya ke selokan. Cara ini bergantung suplai air dari atas. Sayangnya, pasokan air tersebut tak selalu lancar.

“Otomatis kami tidak bisa bekerja ketika air dari atas tidak mengalir. Melarutkan tanah longsoran dari atas ke bawah melalui selokan merupakan cara paling cepat, daripada naik turun mengangkut material longsoran. Hanya saja cara itu butuh air yang lancar,” kata Wakabid Ops SAR Karanganyar M Rasyid Al Fauzan di lokasi.

Sementara itu bantuan logistik terus mengalir ke dapur umum. Samsi bersama rombongan Baznas, Polres dan Dinas Sosial membawa beras, lauk pauk dan uang tunai ke penanggung jawab posko itu. Kaum perempuan tampak sibuk memasak bahan makanan sedangkan para pria ikut bekerja bakti.

Mereka beraktivitas nyaris tanpa henti hingga akses vital itu pulih. Ikut meninjau dapur umum, yakni Wakapolres Karanganyar Kompol Dyah Wuryani Hapsari, Camat Tawangmangu Rusdiyanto serta pejabat lainnya.

“Alat berat tidak bisa dibawa naik. Air dari atas juga terisolir. Kalau terus begini, terpaksa air dibawa ke atas dengan jeriken untuk melarutkan timbunan tanahnya,” kata Samsi. (Lim)

BERITA REKOMENDASI