Pemkot Perkuat Digitalisasi Branding

Editor: Ivan Aditya

SOLO, KRJOGJA.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Solo memperkuat digitalisasi media branding kota, baik dalam bentuk videotron maupun papan digital dengan menambah titik spot di sejumlah lokasi, diantaranya tiga videotron baru di kawasan Jalan Slamet Riyadi serta papan digital di depan Balaikota. Sistem digital dinilai lebih efektif selain pula tak berpotensi mengganggu keindahan kota, dibanding media konvensional seperti spanduk, baliho, banner dan sebagainya.

Kepala Seksi (Kasi) Infrastruktur, Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo), Taufan Redina mengungkapkan, media branding baik berupa videotron maupun papan digital, memungkinkan seluruh informasi dapat ditayangkan sepanjang waktu. Kalaupun terjadi perubahan ataupun pergantian konten, tinggal memasukkan dalam program, sehingga tidak perlu melepas dan memasang kembali informasi baru sebagaimana spanduk, baliho ataupun banner.

Sedangkan peruntukan media branding kota tersebut, menurutnya, memang dibedakan anatar videotron dengan papan digital. Videotron yang terpasang disejumlah titik memungkinkan bagi perusahaan swasta memanfaatkan sebagai ajang promosi produk masing-masing, sedangkan papan digital khusus dialokasikan untuk menayangkan seluruh informasi dari Pemkot Solo kepada masyarakat.

Hanya saja pemanfaatan videotron sebagai ajang promosi produk dibatasi maksimal 40 persen, sedangkan 60 persen tetap dialokasikan sebagai media informasi publik yang terkait dengan program Pemkot Solo, seperti wisata, kuliner, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan sebagainya. Sejauh ini, kuantitas media informasi digital memang masih terbatas, namun ke depan dilakukan penambahan sesuai kebutuhan pengembangan kota.

Sementara Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo menegaskan, pemanfaatan videotron untuk ajang promosi produk, diberlakukan larangan untuk iklan rokok. Kebijakan ini terkait dengan obsesi Solo untuk menjadikan diri sebagai Kota Layak Anak (KLA) yang selama ini masih terkendala iklan rokok.

“Dari sisi potensi pendapatan, kontribusi dari iklan rokok memang sangat besar, namun upaya membangun generasi ke depan, terutama di kalangan anak-anak yang terbebas dari asap rokok, jauh lebih penting,” ungkapnya.

Upaya menjadikan Solo sebagai KLA telah dirintis sejak tahun 2011 silam, dan hingga kini masih terkendala persoalan asap rokok. Secara bertahap, iklan rokok yang semula bertebaran di tengah kota, mulai dihilangkan, termasuk pembatasan pemanfaatan videotron, dengan resiko kehilangan potensi pendapatan.

Meski begitu, intensifikasi pendapatan dari sektor lain, dalam beberapa tahun terakhir mampu menutup potensi pendapatan dari sektor iklan rokok yang hilang. (Hut)

BERITA REKOMENDASI