Pemkot Solo Klarifikasi Delapan Penjuru Mata Angin

SOLO, KRJOGJA.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mengklarifikasi motif ornamen di Bunderan Tugu Pamandengan yang menjadi bagian dari penataan kawasan Koridor Sudirman, merupakan pola delapan penjuru mata angin, bukan salib yang belakangan viral di media sosial. Konsep pola delapan penjuru mata angin yang menjadi bagian dari khasanah budaya Jawa, diilhami dari simbol Wilwatikta semasa kejayaan Kerajaan Majapahit.

Klarifikasi atas persepsi ornamen Bunderan Tugu Pamandengan yang dihembuskan sebagai salibisasi, disampaikan jajaran pemangku kepentingan di Kota Solo, diantaranya Wakil Walikota Achmad Purnomo, Kepala Kepolisian Resort Kota (Kapolresta) Kombes Pol Ribut Hari Wibowo, Komandan Kodim (Dandim) 0735, Lettkol Inf Ali Akhwan, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Solo, KH Subari, Budayawan Keraton Kasunanan Solo, GPH Poeger, serta perancang desain penataan Koridor Sudirman, Taufan Basuki, di Balaikota, Rabu (16/1/2019).

Desain ornamen pada Koridor Sudirman dengan bahan baku batu andesit serta bebatuan lain aneka warna, jelas Taufan Basuki, sama sekali tak terkait dengan simbol agama tertentu. Secara keseluruhan, konsep dasar Koridor Sudirman, mengembalikan garis imajiner secara budayawi mulai dari Pagelaran Keraton Kasunanan Solo hingga Tugu Pamandengan di depan Balaikota. Bahkan seluruh bangunan yang menghalangi garis imajiner itu dihilangkan, termasuk tiang listrik yang semula menjulang di tengah Bunderan Gladag.

Dahulu kala, tambah Budayawan Keraton Kasunanan Solo, GPH Poeger, ketika raja tengah dilanda kegalauan, melakukan semacam semedi di Bangsal Pagelaran dengan pandangan lurus bertitik pusat pada Tugu Pamandengan. Sebagai titik pusat konsentrasi secara budayawi, ornamen pada Tugu Pamandengan bermotif delapan penjuru mata angin, sebagai pilihan tepat. Kalaupun kemudian ada sementara orang menyebutkanan ornamen tersebut menyerupai salib, menurutnya tak lebih sebagai persepsi dengan sudut pandang parsial. "Empat sisi yang dipersepsikan sebagai salib, sebenarnya merupakan filosofi papat kiblat lima pancer sebagaimana terminologi budaya Jawa yang dalam konsep delapan penjuru mata angin memang merupakan bagian utama dengan arah Utara, Timur, Selatan, dan Barat dengan titik Tugu Pamandengan sebagaui simbol vertikal," jelasnya.

Di sisi lain, Kapolresta Kombes Pol Ribut Hari Wibowo mengisyaratkan agar warga lebih bijak dalam memandang persoalan secara menyeluruh. Dia sepakat, wacana salib pada ornamen Tugu Pamandengan lebih sebagai persepsi yang bisa saja antara satu ornag berbeda dengan orang lainnya. Sebagai ilustrasi dia menyebut, sebuah bolpoint ketika dilihat dalam posisi tegak, akan menyiratkan makna sebuah alat tulis, tetapi ketika dipandang dengan sudut sejajar dengan mata, akan membuahkan persepsi sebuah titik.

Sedangkan Ketua MUI, KH Subari mengungkapkan, kalaupun desain ornamen Tugu Pamendengan memang dimaksudkan sebagai salib, tentunya orang yang pertama kali marah adalah umat Nasrani, sebab simbol keagamaan itu berada di jalan raya yang setiap saat terinjak ataupun terlindas roda kendaraan. Bagi umat Nasrani salib merupakan simbol suci yang selalu ditempatkan pada lokasi terhormat, seperti ruang tamu rumah, di atas pintu, ruang belajar dan sebagainya, sehingga tidak layak jika ditempatkan di jalan raya.

Dalam beberapa hari terakhir, foto ornamen Tugu Pamandengan yang diambil dari atas, memang menjadi viral di media sosial. Berbagai komentar bermunculan, bahkan sebagian mempersepsikan sebagai salibisasi Koridor Sudirman. Terkait itu pula Pemkot Solo memberikan klarifikasi agar hal tersebut tak berkembang hingga mengganggu kondusifitas kota.(Hut)

BERITA REKOMENDASI