Pemuda Ogah Bertani, Regenerasi Pertanian Kritis!

SOLO (KRjogja.com) – Regenerasi petani yang melanda pedesaan Indonesia kini memasuki tahapan kritis. Karena para pemuda lebih suka meninggalkan desa untuk mencari pekerjaan non pertanian. Mereka menganggap bertani adalah pekerjaan kotor, tidak keren, jadul dan miskin.

Rumah tangga petani pun berangsur terus menurun. Padahal realitanya 52 persen produk pangan sekarang ditopang oleh pertanian berbasis rumah tangga. Kalau tak ada regenerasi petani dikawatirkan mengancam pasokan pangan di tanah air.

Persoalan di atas muncul dalam diskusi multi stakrholder "Modernisasi dan Krisis Regenerasi Petani di Pedesaan" yang dilalsanakan kerjasama Pusat Penelitian Kependudukan (P2K) LIPI dan Ptogram studi Sosiologi Fisip Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Selasa (20/9).

Diskusi menampilkan pembicara Gutomo Bayu Aji, peneliti P3K LIPI, Aprilia Ambarwati, Akatiga Bandung, Hapsoro (Kepala Desa Sidowayah Polanharjo Klaten), Titik Eka Sasati (Yayasan Gita Pertiwi Solo) dan Siti Zunariyah (Fisip UNS).

Berdasarkan Sensus Ekonomi 2014  tercatat  26.13 juta rumah tangga petani. Aprilia Ambarwati menjelaskan sementara ini di kalangan pemuda petani menghadapi hambatan akses terhadap lahan. "Mereka mendapatkan lahan harus menunggu warisan. Karena lama maka pemuda desa melakukan migrasi di luar pertanian," ungkap Ambar.

Dicontohkan pemuda di Karawang pada lari ke industri. Sementara tenaga kerja pertanian dicukupi oleh waga sekitar yang bekerja berpindah pindah. Hapsoro menambahkan di Klaten tanah persawahan bukan dimiliki warga setempat. Pemilik sawah tidak tinggal di desa. Sawah diserahkan masyarakat untuk mengelola. Ini membuat tidak leluasa dalam pengelolaan. (Qom)

BERITA REKOMENDASI