Pengaruh Corona dan Cuaca, Jumlah Desa Kekurangan Air Bersih Turun Drastis

Editor: Agus Sigit

SUKOHARJO, KRjogja.com – Jumlah desa kekurangan air bersih saat musim kemarau pada tahun 2021 menurun drastis dibanding tahun 2019 dan 2020. Kondisi tersebut disebabkan karena perubahan cuaca dan pandemi virus Corona. Pada tahun 2021 ini terhitung Mei hingga awal September baru ada 73 tangki air bersih dikirim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo ke warga kekurangan air bersih terdampak kekeringan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo Sri Maryanto, Selasa (7/9) mengatakan, BPBD Sukoharjo mencatat angka jumlah desa kekurangan air bersih saat musim kemarau dalam tiga tahun terakhir terhitung 2019, 2020 dan 2021 mengalami penurunan drastis. Data diketahui pada tahun 2019 ada 17 desa di tiga kecamatan yakni Kecamatan Tawangsari, Weru dan Bulu kekurangan air bersih saat musim kemarau. Angka kemudian turun pada tahun 2020 hanya sembilan desa di tiga kecamatan dan tahun 2021 kembali menurun tinggal tiga desa di tiga kecamatan.

Penurunan jumlah desa kekurangan air bersih disebabkan karena pengaruh perubahan cuaca dan pandemi virus Corona. Kondisi tersebut membuat permintaan bantuan air bersih ke warga ikut menurun.

Sri Maryanto menjelaskan, pada tahun 2019 lalu angka jumlah desa kekurangan air bersih sangat tinggi karena cuaca panas yang berdampak pada panjangnya musim kemarau. Akibatnya banyak warga kekurangan air bersih dan membutuhkan bantuan dari Pemkab Sukoharjo.

Pada tahun 2020 angka jumlah desa kekurangan air bersih mulai menurun karena pandemi virus Corona. Penyebaran virus Corona berdampak pada penurunan aktivitas masyarakat. Hal ini membuat konsumsi kebutuhan air bersih warga juga ikut menurun. BPBD Sukoharjo memantau di wilayah rawan kekeringan dan sudah membantu menyalurkan bantuan air bersih.

“Di tahun 2021 angka jumlah desa kekurangan air bersih menurun drastis. Seperti sama tahun 2020 lalu, pada saat sekarang masih terpengaruh pandemi virus Corona membuat aktivitas masyarakat menurun. Penyebab lainnya karena lamanya waktu hujan terpengaruh fenomena alam La Nina dimana terjadi peningkatan curah hujan,” ujarnya.

Sri Maryanto menjelaskan, fenomena alam La Nina dan pandemi virus Corona membuat kondisi air sumur warga masih ada. Sebab kebutuhan air bersih masih dapat terpenuhi dari hujan. Sedangkan kegiatan yang bersifat membutuhkan banyak air seperti hajatan tidak ada karena kebijakan larangan mengingat masih pandemi virus Corona.

“September ini masih ada hujan. Puncak hujan karena fenomena alam dan harapannya air sumur warga masih terisi. Apalagi masih pandemi virus Corona dimana hajatan dan kegiatan kerumunan massa yang membutuhkan banyak air masih dilarang. Kalaupun ada warga kekurangan air bersih kami siap membantu,” lanjutnya.

BERITA REKOMENDASI