Penjual Gorengan Ini Berangkat ke Baitullah

HIDUP serba kekurangan tak membuat warga Dusun Semenharjo, Balong, Jenawi, Suwarti (49) patah arang memenuhi rukun Islam kelima. Perjalanan hidup penjual gorengan ini patut dijadikan teladan.

'Kepergian' putranya pada 2010 lalu justru menjadi penyemangat istri pedagang eskrim keliling, Sukar (59) ini untuk tetap istiqomah. Keduanya menyisihkan sedikit demi sedikit laba berjualan gorengan dan eskrim keliling untuk modal naik haji. Perjuangan pasangan ini tampaknya masih panjang karena modalnya baru cukup mengantarkan sang istri menunaikan ibadah itu tahun ini.

"Berangkat (haji) tidak dengan bapak. Saya duluan. Sepulangnya nanti, baru bapak mendaftar,” kata Suwarti yang mengaku mendaftar pada Maret 2011.

Dia terdaftar di kelompok terbang (kloter) 21 sebanyak 355 jemaah yang masuk asrama haji Donohudan, Boyolali pada 2 Agustus mendatang.
Bagi keluarga kurang mampu asal desa terpencil di Karanganyar ini, perjalanan ke Baitullah seperti mimpi. 

Selama ini, Suwarti hanya mampu memberi selamat tetangganya yang juragan beras atau peternak sapi bergelar haji atau hajjah. Maklum saja, tingginya ongkos naik haji dan waktu lama antrean menyulitkan sebagian umat Islam. "Ikut terus mangayubagya (memberi selamat) haji. Puluhan tahun seperti itu.  Saya sangat bersyukur bisa berangkat haji. Alhamdulillah,” katanya.

Ongkos naik haji Rp 35,767 juta dilunasinya dengan cara mengangsur. Ia setiap sore menggelar lapak gorengannya di kompleks Terminal Balong usai suaminya pulang menjajakan es krim. "Menyisihkan Rp 50 ribu-Rp 100 ribu per minggu. Tidak bisa banyak-banyak karena masih buat makan sehari-hari dan sekolah anak,” katanya.

Sebagian modal naik haji ditopang uang peninggalan almarhum anak sulungnya. Sebelum putranya itu meninggal dunia akibat kecelakaan pada 2010, sempat berwasiat ingin memberangkatkan haji orangtuanya. “Uang itu tidak boleh diusik selain untuk haji. Rp 25 juta warisan dari anak saya itu. Sisanya buat bapak mendaftar,” katanya. (R-10)

BERITA REKOMENDASI