Penonton dan Peserta Berebut Jalan

SOLO, KRJOGJA.com – Panggung jalan raya sepanjang sekitar 4 kilometer, dari halaman Stadion Sriwedari hingga Beteng Vasternburg berjubel puluhan ribu orang menyaksikan gelaran Solo Batik Carnival (SBC) yang kali ini memasuki tahun ke sepuluh, Sabtu (15/7/2017). Mereka saling berdesakan berburu tempat paling depan, agar dapat menyaksikan gelaran parade busana batik tahunan ini, dari jarak terdekat. Akibatnya, sebagian peserta kesulitan menyuguhkan atraksi di sepanjang perjalanan, karena ruang gerak kian menyempit.

Petugas keamanan dan panitia dalam jumlah relatif terbatas, tak mampu menghalau kerumunan penonton, agar menyisakan ruang yang cukup bagi peserta untuk mempertunjukan kepiawaian berolah tubuh dalam balutan busana karnaval yang cukup berat. Kerumunan penonton hanya dapat dihalau ke pinggir dalam waktu beberapa saat, kemudian mereka berbalik lagi hampir memenuhi jalur yang hendak dilalui peserta karnaval.

Ketua Yayasan SBC, Susanto, menjawab wartawan di sela karnaval, mengungkapkan, manajemen penonton selama ini memang menjadi pekerjaan rumah cukup berat bagi panitia kirab semacam itu. Terlebih semua penonton hampir pasti membawa telepon genggam berpelengkap kamera, sehingga terjadi semacam perebutan tempat terdepan, untuk mengabadikan event tersebut. Bahkan tak jarang, mereka mendekati peserta SBC untuk ber-selfie ria.

Sebagai sebuah hiburan bagi masyarakat, tambahnya, kondisi semacam itu dapat dimaklumi. Karenanya, untuk menyiasati agar tampilan SBC terlihat prima, pihaknya menenmpatkan dua titik panggung kehormatan yang relatif steril dari kerumunan penonton, masing-masing di garis start, serta panggung simang empat Ngarsopura. "Di dua titik panggung itu, peserta leluasa menyuguhkan kepiawaiannya berolah tubuh serta memamerkan hasil kreasi kostum karnaval berbahan dasar batik," ujarnya.

Tak kurang dari 400 peserta, termasuk partisipan dari Jember Fashion Carnival (JFH) dan Cirebon Caruban Carnival (CCC), tampil dalam SBC yang menamplkan aneka jenis desain kostum karnaval. Kehadiran dua kelompok peserta partisipan, menurutnya, dapat dijadikan pembanding kualitas rancangan kostum serta penampilan di panggung jalan raya. masing-masing tentu memiliki kelebihan dan kekurangan, jelasnya, dan itu menjadi bahan evaluasi bagi penyempurnaan pelaksaaan event seruopa di masa mendatang.

Sedangkan tampilan peserta SBC sendiri, dibagi dalam lima kelompok besar dalam ikatan sub tema saling berbeda, masing-masing Sekar Jagad, Wayang, Topeng Panji, Legenda, Mustika Jawa Dwipa. Tak urung, suguhan SBC ke-10 ini seolah mengungkap kembali masa kejayaan Jawa pada masa lalu, lewat gemerlap rancangan busana sesuai kreativitas masing-masing perancang.

Dia berharap, berbagai event budaya tahunan ini, mampu mengatrol arus wisatawan, baik domestik maupun manca negara ke Solo. Gaung SBC sendiri sebenarnya telah mendunia, setidaknya terindikasikan dengan undangan untuk mengikuti parade di berbagai negara manca. Tentu ini belum cukup, ujarnya, sebab yang terpenting, justru warga dari berbagai negara manca datang ke Solo untuk menyaksikan SBC.-(Hut).

BERITA REKOMENDASI