Penuhi Stok Pangan Sukoharjo, Panen Padi MT I Diharapkan Melimpah

Editor: KRjogja/Gus

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Petani berharap hasil panen padi pada musim tanam I (MT I) dalam kondisi baik dan melimpah. Sebab panen diperkirakan akan dilakukan pada Maret-April atau bersamaan dengan Puasa Ramadan dan menjelang Lebaran Mei mendatang. Ketersediaan bahan pangan tidak hanya menjadi jaminan bagi masyarakat namun juga petani berharap medapatkan keuntungan setelah pada tahun 2019 lalu diterpa musim kemarau panjang sehingga menyebabkan tanam padi tahun 2020 mundur.

Disisi lain, Dinas Pertanian dan Perikanan dan Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengan Sukoharjo terus memantau kondisi di lapangan. Petugas berharap tidak ada gejolak pangan saat Puasa Ramadan dan Lebaran mendatang.

Petani Desa Gumpang, Kecamatan Kartasura Suryanto, Senin (10/2) mengatakan, petani pada posisi sekarang sedang berusaha memulihkan mengingat pada tahun lalu saat MT III banyak gagal akibat terdampak kemarau panjang. Sedangkan tahun ini saat MT I petani baru saja tanam padi setelah kebutuhan air terpenuhi dari hujan. Meski begitu petani tidak bisa tenang mengingat tanaman padi rawan rusak dan gagal panen akibat serangan hama tikus.

Petani melakukan berbagai usaha agar serangan hama tikus tersebut mereda dengan memperbanyak kegiatan gropyokan. Selain itu juga menaati pola tanam serentak untuk memutus siklus hama tikus.

“Petani pada MT I jelas sangat berharap panen padi dalam kondisi baik dan melimpah. Sebab petani butuh balik modal dan juga membantu ketersediaan bahan pangan mengingat saat panen nanti bersamaan dengan menjelang Puasa Ramadan dan Lebaran,” ujarnya.

Suryanto mengaku tanaman padi miliknya sekarang masih berusia 15 hari dan diperkirakan baru panen pada April mendatang. Disaat itu bersamaan dengan Puasa Ramadan dan harapannya harga gabah panen tinggi.

“Kalau hasil gabah baik maka harga tentu tinggi. Terlebih lagi nanti panen MT I dan banyak yang cari dan harga tinggi karena kebutuhan beras Puasa Ramadan juga tinggi,” lanjutnya.

Petani asal Desa Mayang, Kecamatan Gatak Widodo mengatakan, terus melakukan perawatan tanaman padi yang sekarang baru berusia 7 hari. Sebab pada awal tanam rawan rusak akibat serangan hama tikus dan banjir.

Tikus menjadi ancaman serius bagi petani saat MT I padi kali ini karena rawan menyebabkan kerusakan. Petani sudah melakukan langkah bersama menggelar gropyokan.

“Panen MT I padi nanti menjadi harapan besar bagi petani bisa mendapatkan untung. Tapi juga masyarakat karena bisa dapat beras dengan harga murah,” lanjutnya.

Ketua Paguyuban Petani Pengguna Air (P3A) Dam Colo Timur, Jigong Sarjanto, mengatakan, butuh kerja keras dari petani dengan dibantu petugas terkait agar hasil panen padi pada MT I melimpah. Sebab petani sebelumnya dihadapkan dengan masalah alam akibat kemarau panjang di tahun 2019 menyebabkan MT I padi menjadi mundur. Apabila petani biasanya bisa melakukan MT I padi pada November-Desember maka sekarang mundur menjadi Januari-Februari menunggu ketersediaan air dari hujan.

Jigong mengatakan, meski sudah tanam padi namun petani juga tidak bisa tenang begitu saja. Sebab petani masih dihadapkan masalah serangan hama tikus yang bisa merusak tanaman padi.

“Sudah sangat jelas panen padi MT I ditunggu petani. Termasuk dari pemerintah sebagai stok pangan daerah dan nasional. Sebab setelah ini perhitunganya pemenuhan beras saat Puasa Ramadan dan Lebaran. Jangan sampai terjadi kekurangan atau kelangkaan,” ujarnya.

Pengurus P3A Dam Colo Timur terus memantau kondisi tanaman padi petani. Hasilnya dalam keadaan baik setelah kebutuhan air terpenuhi dari hujan. Sedangkan penanganan serangan hama tikus masih terus dilakukan oleh petani bersama dengan petugas terkait.

“Kalau di MT III lalu penyebab kekhawatiran petani karena kemarau panjang. Maka sekarang tikus. Jangan sampai rusak dan gagal panen,” lanjutnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Netty Harjianti mengatakan, dinas terus memantau kondisi tanaman padi petani. Luasan lahan pertanian yang ditanami padi juga terus bertambah disemua wilayah di 12 kecamatan. Petugas memantau langsung ke lapangan dengan tujuan petani tidak menemui masalah selama tanam hingga panen.

Luasan lahan pertanian yang ditanami padi membuat Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo lega. Sebab sejak Januari lalu petugas sudah gencar meminta petani melakukan persiapan olah tanah, tebar bibit hingga tanam padi. Program percepatan tersebut dilakukan dengan harapan panen padi juga bisa cepat dilakukan petani.

“Hasil panen padi petani Sukoharjo menjadi harapan pemenuhan kebutuhan pangan lokal dan juga nasional. Jadi kami harap panen padi MT I melimpah. Apalagi perkiraan panen juga menjelang Puasa Ramadan dan Lebaran. Disaat itu kebutuhan bahan pangan meningkat,” ujarnya.

Netty menjamin, kebutuhan pangan khususnya beras bisa terpenuhi semua termasuk saat Puasa Ramadan dan Lebaran mendatang. Sebab Kabupaten Sukoharjo sendiri sudah lama menjadi daerah lumbung pangan atau swasembada beras.

“Dalam kondisi di daerah lain stok menipis dan harga naik beberapa kejadian tahun lalu. Di Kabupaten Sukoharjo aman dan stabil tidak ada kekurangan dan harga terjangkau. Beras itu terpenuhi dari petani lokal,” lanjutnya.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Sukoharjo Sutarmo mengatakan, ikut memantau kondisi stok dan harga bahan pangan. Untuk sementara di pasaran masih stabil dan tidak ada gejolak. Kekurangan stok dan kenaikan harga hanya terjadi pada komoditas cabai rawit merah Rp 70 ribu per kilogram dan bawang putih Rp 55 ribu per kilogram. Sedangkan beras stok masih melimpah dan harga stabil pada kisaran Rp 9 ribu-Rp 10 ribu per kilogram tergantung jenis.

“Pemerintah pusat sudah memberikan sinyal di daerah untuk mempersiapkan bahan pangan menjelang Puasa Ramadan dan Lebaran nanti. Sebab sekarang secara nasional ada masalah berkaitan dengan bawang putih dan cabai,” ujarnya. (Mam)

BERITA REKOMENDASI