Penyaluran Pupuk Terus Berkurang, Ini Pemicunya

SOLO, KRJOGJA.com – Produk pupuk bersubsidi berangsur menurun sejalan berkurangnya jumlah petani. Tahun depan penyaluran pupuk bersubsidi di Petromia Grrsik turrun sekitar 1,6 juta ton, dari semula 9,5 juta ton menjadi 7,9 juta ton. 

"Jadi trennya akan menurun," jelas Trudo Nainggolan, manager penjualan pupuk korporasi Petrokimia Gresik di sela Jambore Petani Muda 3 di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Rabu (18/9).

Penurunan terjadi selain semakin berkurangnya petani juga adanya berbedaan persepsi luas tanam lahan. Pemerintah juga ingin APBN yang terbatas dimanfaatkan secara maksimal. Diantaranya dengan program kartu tani agar penyaluran pupuk bersubsidi tepat sasaran. Secara kebutuhan pupuk 14,5 juta ton, sedang kemampuan pemerintah 9,5 juta ton. Tahun depan turun menjadi 7,9 juta ton.

Sementara kini semakin banyak di pedesaan yang mengembangkan beras organiik. Trudo Nainggolan tidak menyebutkan hal itu mengurangi permintaan pupuk. Apalagi Petrokimia juga telah mengembangkan jenis pupuk organik. Ini termasuk bagian pupuk bersubsidi yang tahun ini alokasinya  973ribu ton.

"Harga subsidi setiap kilogram Rp 500,- sedang non subsidi Rp  1.500,-," jelasnya. Masih banyak jenis organik yang lain. PT Petrokimia Gresik  menggelar jambore di 12 perguruan tinggi untuk mendukung pertumbuhan agrosociopreneur bidang Pertanian di Indonesia. Gerakan ini untuk menjawab turunnya minat generasi muda terjun di pertanian.

Selain UNS yakni Universitas Gajah Mada, IPB, Unsoed,, UB, Unpad,  USU, UNILA, UNEJ, Udayana, Unhas, dan Lambung Mangkurat. Ikut tampil sebagau pembicara dekan FP UNS Prof Dr Samanhudi. (Qom)

BERITA REKOMENDASI