Perajin Genteng Grogol Weru Keluhkan Bahan Baku

Editor: KRjogja/Gus

SUKOHARJO (KRjogja.com) – Perajin genteng asal Desa Grogol, Kecamatan Weru mengalami kesulitan produksi akibat semakin menipisnya bahan baku berupa tanah liat. Selain itu kendala lainnya karena faktor cuaca sering hujan membuat proses penjemuran menjadi lambat.

Perajin gentang Desa Grogol, Kecamatan Weru Raharjo, Kamis (11/1) mengatakan, selama ini seribuan perajin genteng di Grogol, Weru selalu mengandalkan bahan baku tanah liat dari wilayah Bayat, Kabupaten Klaten. Tanah liat tersebut sengaja dipilih para perajin karena memiliki sejumlah keunggulan. Seperti lebih ulet saat diolah dan tidak mudah pecah setelah diproduksi.
 
Kualitas tanah liat Bayat, Klaten tidak dimiliki oleh tanah lainnya di wilayah Sukoharjo. Namun kondisi sekarang bahan baku tanah liat dari Bayat, Klaten semakin menipis. 
Kendala yang dihadapi para perajin genteng asal Grogol, Weru membuat produksi semakin sulit. Sebab mereka sangat bergantung mendapatkan bahan baku berkualitas dari tanah liat Bayat, Klaten.

“Kendala produksi sekarang karena bahan baku semakin menipis. Semua perajin genteng di Grogol, Weru pakai tanah liat dari Bayat, Klaten karena berkualitas,” ujarnya.
Para perajin genteng asal Grogol, Weru berusaha mencari solusi menggunakan bahan baku tanah liat lain. Mereka mencoba tanah liat dari Kabupaten Wonogiri. Namun hasilnya tidak sebagus menggunakan bahan baku tanah liat dari Bayat, Klaten.

“Kalau tanah liat dari Wonogiri dibuat genteng ya jadi. Tapi banyak penyusutan dan mudah pecah. Itu sangat berpengaruh pada kualitas,” lanjutnya.

Kondisi tersebut membuat perajin genteng asal Grogol, Weru khawatir karena akan berpengaruh pada penurunan kualitas. Dampaknya dikhawatirkan terjadi pada turunya jumlah pemesanan dari pembeli.

“Kualitas genteng dari Grogol, Weru sudah dikenal. Perajin bahkan kebanjiran pesanan termasuk sampai ke luar jawa,” lanjutnya.

Kendala lainnya berkaitan dengan bahan baku tanah liat dilihat dari pemesanan di Bayat, Klaten. Apabila sebelumnya perajin bisa mendapatkan bahan baku dengan menggunakan armada truk maka sekarang hanya pickup. Harga juga terpengaruh untuk pembelian tanah liat menggunakan pickup sebesar Rp 220 ribu.

“Kalau beli pakai truk bisa muat banyak dan harganya lebih murah. Tapi sekarang mahal dan sedikit karena hanya pakai pickup,” lanjutnya.

Perajin genteng asal Grogol, Weru Sariyono mengatakan, kendala lainnya yang dihadapi untuk produksi yakni cuaca. Sebab kondisi sekarang sering hujan dan membuat proses pengeringan berupa penjemuran menggunakan sinar matahari menjadi terhambat.

“Perajin dalam produksi masih tradisional mengeringkan menggunakan sinar matahari. Kalau sering hujan maka menjadi terhambat dan produksi turun,” ujarnya.

Penurunan produksi dirasakan sekitar 40 persen dibandingkan sebelumnya. Sebab bahan yang sudah dibuat harus dikeringkan sebelum dibakar dan dijual. “Harga genteng di Grogol, Weru perseribu biji sebesar Rp 1,2 juta. Sekali produksi perajin bisa membuat sekitar 10.000 biji dan langsung laku terjual,” lanjutnya. (Mam)

 

BERITA REKOMENDASI