Perempuan Pengusaha di Sragen Jadi Korban Arisan Online Aleghoz

Editor: Ivan Aditya

SRAGEN, KRJOGJA.com – Sejumlah anggota arisan online Aleghoz di Kabupaten Sragen menggeruduk mapolres setempat, Selasa (17/08/2021). Mereka mengadukan pengelola arisan berinisial Dev (24) atas dugaan penipuan dan penggelapan senilai Rp 4 miliar.

Diperkirakan ada sekitar 50 member arisan yang menjadi korban arisan online tersebut. Sejumlah korban datang dan langsung membuat aduan ke SPK Polres Sragen. Di hadapan petugas, mereka mengadukan wanita muda asal Ngrampal, Sragen yang menjadi owner atau pengelola arisan.

Salah satu korban, Etik Purwanti (32) asal Mojomulyo RT 2/10 Mojo Sragen Kulon Sragen menuturkan terpaksa melapor ke Polres karena uangnya yang disetor untuk arisan senilai total Rp 160 juta hingga kini belum kembali. Sementara upayanya untuk menanyakan dan meminta pertanggungjawaban owner arisan selalu berakhir buntu.

Bahkan surat perjanjian kesanggupan membayar yang ditandatangani owner 5 Agustus lalu juga tidak direalisasi. Saat didatangi ke rumahnya terakhir kali beberapa hari lalu, yang bersangkutan justru berusaha menghindar dan tidak lagi di rumah.

“Kerugian saya pribadi kalau ditotal sekitar Rp 160 juta. Untuk setorannya bervariasi ada yang Rp 3,7 juta, Rp 5 juta ada juga yang puluhan juta. Saya kebetulan ambil yang perslotnya agak besar, Rp 30 juta dan lebih,” ujar Etik usai melapor ke Mapolres Stagen.

Perempuan yang membuka bisnis toko itu menuturkan member arisan itu ada sekitar 50an orang. Dari jumlah itu, 20 member berasal dari Sragen sedang sisanya dari Semarang, Solo dan beberapa daerah lainnya.

Setoran mereka berbeda-beda mulai dari jutaan hingga puluhan juta. Kerugian yang dialami member ada yang Rp 30 juta, Rp 10 juta, Rp 90 juta hingga di atas Rp 100 juta sehingga jika ditotal jumlah uang member yang belum kembali mencapai Rp 4 miliaran.

“Saya dan teman-teman terpaksa melapor ke Polres karena kami melihat sudah tidak ada itikad baik dari owner. Tadi kami masih aduan, nanti melihat bagaimana respon Polres. Harapan kami Polres bisa memfasilitasi sehingga uang kami bisa kembali,” terangnya Etik.

Etik menceritakan ia bergabung menjadi member arisan itu sekitar bulan Juni 2021 lalu. Awalnya ia didatangi oleh teman dan diajak bergabung. Karena diiming-imingi keuntungan menjanjikan ia pun akhirnya tertarik, terlebih melihat arisan sudah berjalan hampir 2 tahun serta anggotanya ada dari anggota polisi hingga PNS makin menguatkan keyakinannya.

Namun setelah membayar setoran, ternyata ia tak kunjung dapat. Setelah ditelusuri, ia menemukan ada sebagian member yang ternyata fiktif dan anggota keluarga owner sendiri.

“Makanya kami melapor ke kepolisian. Karena kalau saya melihat pasalnya bisa berlapis. Ada yang bujuk rayu karena dia merayu saya. Kemudian penipuan juga jelas, penggelapan jelas dan manipulasi data jelas. Karena apa, disitu arisan yang mendapatkan itu ternyata nomornya banyak yang fiktif dan dia (tersangka) juga mengakui itu nomor yang megang dia sendiri,” urai Etik.

Korban lain, Agung (28) asal Sukodono Sragen juga mengaku bergabung sejak Desember 2019 dan juga ambil banyak slot. Awalnya, semua berjalan lancar dan ia bisa mendapat arisan sesuai sistem.

Namun sekitar sebulan lalu, gelagat pengelola mulai tidak beres dan arisan mulai macet. Dari catatannya, uang miliknya yang belum kembali ada sekitar 10 slot dengan total sebesar Rp 160 juta.

Sama halnya Etik dan korban lain, Agung juga berharap ada itikad baik dari pengelola untuk bertanggungjawab mengembalikan uang member. Namun jika tidak ada itikad baik, maka berharap bisa diproses hukum.

“Saya pernah datang ke rumahnya tanggal 15 Juli kemarin, minta pertanggungjawaban baik-baik. Dia sudah beritikad dan buat surat perjanjian mau bayar paling lambat 5 Agustus. Tapi sampai batas akhir nggak ada pelunasan sama sekali,” urainya.

Terpisah, Kasi Humas Polres Sragen AKP Suwarso mengatakan setiap aduan atau laporan masyarakat pada prinsipnya akan diterima dan ditampung. Nantinya akan dilakukan pendalaman terlebih dahulu oleh penyidik apakah memenuhi unsur pidana dan layak untuk diproses lebih lanjut atau tidak. (Sam)

BERITA REKOMENDASI