Perempuan Petugas Kebersihan di Solo ‘Dikandangkan’

Editor: KRjogja/Gus

SOLO (KRjogja.com) – Perempuan petugas kebersihan yang setiap hari bergelut dengan sampah, akan 'dikandangkan'. Mereka tak lagi dibebani tugas memungut sampah dari rumah ke rumah serta mengangkut hingga titik tertentu, sebelum dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo menggunakan truk, namun dialihkan sebagai petugas kebersihan di kantor kelurahan di wilayah kerja masing-masing.

Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo, menjawab wartawan, di kantornya, Rabu (11/4) mengungkapkan, kebijakan mengalihtugaskan perempuan petugas kebersihan tersebut, lebih didasari alasan 'tepa selira' dan menghormati mereka sebagai seorang perempuan. Terlebih, sebagian besar perempuan petugas kebersihan telah berusia lebih dari 50 tahun, kendati selama ini mereka mengaku merasa nyaman dengan pekerjaan yang dijalani sehari-hari.

Pria yang akrab disapa Rudy itu menggambarkan, setiap kali melihat perempuan berusia lanjut menarik gerobag sampah, demi menutup kebutuhan keluarga masing-masing, muncul rasa kurang nyaman di hati. Dari beberapa kali dialog dengan perempuan petugas kebersihan yang sempat dijumpai, pada umumnya memang mengaku merasa nyaman dengan pekerjaan yang telah digeluti selama bertahun-tahun.

"Boleh saja mereka berdalih seperti itu, tetapi hati saya tak bisa menerima, sehingga muncul gagasan untuk mengalihtugaskan mereka sebagai petugas kebersihan di kantor kelurahan," ujarnya sembari menyebut, sehingga beban tugas tak terlalu berat.

Hanya saja, sejauh ini pihaknya belum mengetahui secara persis jumpah perempuan petugas kebersihan di seluruh wilayah Kota Solo. Setidaknya, di wilayah Kecamatan Laweyan, tercatat enam perempuan petugas kebersihan yang rata-rata berusia di atas 50 tahun, sedangkan di wilayah kecamatan lain, masih dalam proses pendataan. Akan lebih baik jika seluruh perempuan petugas kebersihan, di tarik ke kelurahan, sedangkan petugas pemungut sampah dari rumah ke rumah digantikan kaum lelaki.

Menjawab pertanyaan pengalihtugasan tersebut berdampak pada anggaran, karena harus merekrut tenaga baru dari kalangan kaum adam, Rudy menyebutkan, para lurah diminta untuk mengajukan tambahan anggaran. Selama ini, petugas pemungut sampah dari rumah ke rumah, diberikan upah sesuai Upah Minimum Kota (UMK). Dari tugas memungut sampah, tambahnya, mereka memang memiliki kesempatan memperoleh penghasilan tambahan dengan menjual sampah jenis tertentu. Mungkin hal itu menjadi alasan tersendiri bagi mereka, sehingga merasa nyaman dengan profesinya sebagai pemungut sampah.

Meski begitu Rudy menyebut memiliki alasan lain untuk menempatkan kaum perempuan pada tugas yang lebih ringan. Terlebih upah yang diberikan dengan standar UMK, dinilai cukup memadai dan jauh lebih besar dibanding beberapa tahaun lalu yang hanya sekitar Rp 600 ribu per bulan. Hingga saat ini, beberapa perempuan petugas kebersihan sudah di alihtugaskan ke kelurahan, diantaranya di wilayah Kelurahan Mangkubumen. (Hut)

BERITA REKOMENDASI