Petani Berharap Tidak Ada Hama Ganas Pada Musim Tanam I

Editor: KRjogja/Gus

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Petani berharap tidak ada serangan hama ganas hingga bisa merusak tanaman pada pada musim tanam I (MT I). Disisi lain Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo meminta pada petani untuk kompak melakukan tanam padi serentak sebagai cara meminimalisir serangan hama. Petugas juga mengintensikan pemantauan dan penggunaan predator alam sebagai pencegahan serangan hama.

Petani asal Desa Bentakan, Kecamatan Baki Warno, Senin (9/12) mengatakan, petani dihamparan sawah di wilayah Desa Bentakan, Menuran dan Mancasan, Kecamatan Baki hingga ke sebagian Desa Pondok, Kecamatan Grogol pada Desember ini sudah melakukan olah tanah dan tanam padi. MT I padi kali ini memang terlambat dibandingkan tahun sebelumnya sudah dilakukan pada bulan November. Meski demikian hal tersebut tidak terlalu dipemasalahkan mengingat penyebab masalah karena faktor alam.

“Tanam padi mundur ya sudah resiko tidak ada hujan dan membuat saluran kering. Petani justru khawatir terhadap serangan hama khususnya tikus. Kalaupun ada serangan hama petani berharap tidak terlalu ganas dan hasil panen tetap melimpah,” ujarnya.

Untuk meminimalisir serangan hama tikus petani sudah melakukan berbagai usaha. Salah satunya tanam padi serentak dan gropyokan tikus bersama apabila terjadi serangan.

“Hama tikus paling merusak pada MT I, II dan III tahun 2019 ini. Tahun depan kami berharap serangan bekurang atau justru tidak ada,” lanjutnya.

Petani Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Sukoharjo Agus Suranto mengatakan, hama tikus memang masih menjadi musuh besar petani pada tiga kali MT padi tahun 2019. Untuk mengatasinya petani sudah melakukan cara termasuk menggunakan burung hantu sebagai hewan predator alami menangani serangan hama tikus.

Petani di hamparan sawah di wilayah Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Sukoharjo banyak mendirikan rumah burung hantu (rubuhan) sebagai tempah singgah atau kandang burung hantu. Keberadaan rubuhan sangat penting karena membantu petani dalam menjaga burung hantu sebagai hewan predator alami.

“Populasi burung hantu di wilayah kami sudah semakin banyak. Sasarannya memang mengatasi serangan hama tikus,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Netty Harjianti mengatakan, petani apabila sudah siap dalam arti ketersediaan air cukup maka diminta untuk segera melakukan tanam padi serentak. Sebab MT I padi sudah datang dan justru mengalami keterlambatan dibanding tahun lalu karena dampak kemarau panjang. Namun sekarang air sudah cukup tersedia disejumlah wilayah dan petugas meminta petani segera melakukan tanam padi.

“Setelah sebelumnya petani resah kurang air akibat kemarau panjang dan sekarang air terpenuhi dari hujan maka kami minta segera melakukan tanam serentak. Pola ini tidak hanya menguntungkan petani dari sisi perawatan namun juga panen karena meminimalisir serangan hama,” ujarnya.

Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo terus melakukan pemantauan disejumlah wilayah saat MT I padi. Petani dibeberapa wilayah diketahui sudah melakukan tanam padi.

“Penanganan serangan hama seperti tikus di Sukoharjo sudah dikembangkan dengan cara alami memakai hewan predator burung hantu. Pengembangan akan terus dilakukan disemua wilayah,” lanjutnya.

Pusat penangkaran burung hantu sebagai predator alami serangan hama tikus dipusatkan di wilayah Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Sukoharjo. Burung hantu disini kemudian didistribusikan ke petani di wilayah lain. (Mam)

 

BERITA REKOMENDASI