Petani Diarahkan Gunakan Pupuk Organik

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Alokasi pupuk subsidi tahun 2022 mengalami penurunan signifikan. Para petani disarankan beralih ke sistem organik dengan memakai pupuk kandang.

Pada tahun ini, urea digelontor 23.883.748 kg, SP-36 1.311.207 Kg, ZA 1.184.074 kg, NPK 28.962.948 kg, POG 14.125.357 kg dan POC 191.023 liter. Pada tahun lalu, jenis SP-36, ZA dan NPK hampir dua kali lipat lebih banyak. Sedangkan urea mengalami kenaikan pada tahun ini.

Kabid Prasarana Sarana dan Penyuluhan pada Dispertan PP Karanganyar, Nur Rohmah Triastuti mengatakan telah mendata 73.009 petani. Dari jumlah itu, 55.866 diantaranya memegang kartu tani. Alokasi pupuk subsidi tahun ini disesuaikan keuangan pemerintah dan kebutuhan bercocok tanam di 108.773,78 hektare yang direncanakan pada tiga kali musim tanam.

“Kami sudah menghitung kebutuhan pupuknya. Memang didorong beralih ke pertanian organik,” katanya, Kamis (17/02/2022).

Sementara itu pengurangan jatah subsidi pupuk tak terlalu mempengaruhi petani organik di Karanganyar. Mereka berhasil mensubstitusi kebutuhan unsur hara tanah dari semula kimiawi ke pupuk kandang produksi mandiri.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Desa Suruhkalang Kecamatan Jaten, Sukino mengatakan tak lagi mendapat jatah subsidi pupuk subsidi jenis ZA dan SP-36 pada tahun ini. Pada Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) hanya tertera 75 Kg pupuk NPK, 82 Kg urea serta pupuk organik cair (POC) untuk kebutuhan sekali musim tanam di lahan berukuran 0,9 hektare.

“RDKK pada tahun ini di lahan sawah Desa Suruhkalang berkurang. Pada umumnya petani yang mengandalkan subsidi pupuk pabrikan, jatah segitu kurang. Mereka harus membeli kekurangannya di toko pertanian. Alias menebus dengan harga di atas pasaran. Tapi kalau petani yang sudahberalih ke sistem organik, enggak pengaruh,” katanya (15/02/2022).

Dirinya yang mengerjakan sistem organik mengaku tetap membutuhkan pupuk kimia bersubsidi, hanya saja porsinya terukur. Jumlahnya pun tak sebanyak pertanian konvensional, sebagian mengandalkan suplai pupuk kandang yang diproduksi mandiri.

“Memang belum banyak yang beralih ke mandiri. Sehingga tetap bergantung urea. Namun memang jatah dari pemerintah tidak sesuai harapan. Kemarin mengajukan 500 kilogram urea untuk 1 hektare lahan di tiga musim tanam. Dapatnya hanya sekitar 250 kilogram saja,” katanya.

Sejauh ini seluruh kelompok tani di desanya sudah didaftar kartu tani. Ia berharap peralihan ke sistem organik, terus didampingi pemerintah. (Lim)

BERITA REKOMENDASI