Petani Diminta Kompak Berantas Tikus

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Serangan hama tikus di lahan pertanian Desa Suruhkalang, Kecamatan Jaten tergolong parah. Tikus merusak padi dan tanaman pangan lainnya di 205 hektare.

Ditemui di sela gropyokan tikus di Dusun Jetak, Selasa (4/2) Ketua Gapoktan Desa Suruhkalang, Sukino mengatakan upaya penanggulangan hama dengan cara itu dilakukan enam kelompok tani di desanya. Masing-masing kelompok bertanggung jawab di lahan pertaniannya.

“Kita memaksa tikus keluar dari lubang persembunyian dengan diasapi belerang. Setelah keluar, dipukul sampai mati. Melibatkan semua anggota kelompok tani dibantu Babinsa,” kata Sukino kepada wartawan.

Dijelaskannya, sudah banyak cara dilakukan memberantas tikus di desanya. Mulai menebar racun sampai gropyokan. Namun ia merasakan hal itu kurang efektif. Sebab jumlah tikus semakin bertambah dari dua musim tanam lalu sampai sekarang. Di Suruhkalang saja, petani sampai berulangkali melakukan penyemaian. Bibit yang baru saja disemai, langsung ludes dimakan hewan pengerat itu.

“Tiga musim ini jumlah tikus meningkat. Meski sudah gropyokan, sepertinya enggak habis-habis. Umpan tidak selalu dimakan dan beberapa jenis racun sudah dicoba, tapi sama saja,” katanya.

Ketua Kelompok Tani Saridadi 2 Desa Suruhkalang, Hadiwiyono Pardi mengatakan serangan tikus pada musim tanam I tahun ini terparah sepanjang yang dirinya rasakan. Ia mengulang penyemaian sampai empat kali. Waktu yang terbuang percuma akibat penyemaian berulang menyebabkan masa tanam terlambat sampai sebulan lebih.

“Bisa jadi, panen nanti terlambat juga dan hasilnya enggak maksimal. Sejumlah petani berinisiatif memagari petak sawah dengan plastik agar tidak dimasuki tikus,” jelasnya.

Pantauan di lokasi, puluhan ekor tikus berhasil dibunuh dengan cara dipukul selama gropyokan yang dimulai pukul 07.00 WIB. Bangkainya dimasukkan ke beberapa karung plastik lalu dibakar. Kerja bakti ini diikuti Babinsa Serka Haerudin dan Lurah Suruhkalang, Wawan Thohari

Sementara itu petugas pengamat organisme pengganggu tumbuhan (POPT) Jaten, Sutarjo mengatakan, serangan tikus di masa vegetatif tak boleh dibiarkan. Masa vegetatif adalah tanaman berusia muda atau kurang dari sebulan. Ia menggerakkan semua petani dan stakeholdernya untuk melakukan pemberantasan tikus secara serentak.

“Karena petani tidak serentak, hama bebas berpindah-pindah. Wilayah Suruhkalang berbatasan langsung dengan Sukoharjo. Sedangkan di Sukoharjo baru saja gropyokan tapi tidak memberi tahu kami. Sekarang, gropyokan di sini. Sebaiknya serentak. Seluruh sawah desa ini diserang,” katanya. (Lim)

 

BERITA REKOMENDASI