Petani Jagung Wonogiri Dilatih Agribisnis, Dijamin Untung?

Editor: Agus Sigit

WONOGIRI, KRJOGJA.com – Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani kecil CV Mutiara Bumi, Rabu (26/2), melakukan lounching program kemitraan dengan kalangan petani jagung di Kabupaten Wonogiri. Ribuan petani di tujuh kecamatan di kabupaten itu dilatih agrobisnis melalui budidaya jagung yang peluang pasarnya masih relatif terbuka lebar.

“Petani kita khususnya petani jagung selama ini hanya agrikultur sehingga hasilnya kurang memuaskan, dengan agribisnis dipastikan bakal meningkat kesejahteraan mereka,” ungkap Direktur CV Mutiara Bumi Sragen, Hesti Yuliastanti SH, saat membuka program kemitraan dengan petani jagung 7 Kecamatan Kabupaten Wonogiri yang digelar di Ngadirojo Wonogiri Di Ngadirojo dan Kecamatan Wonogiri Kota saja program kemitraan agribisnis jagung ini diikuti 400 petani disertai para Kadesnya masing-masing.

Untuk pola kemitraan ini, kata Hesti, sudah berhasil dilakukan di beberapa Kabupaten seperti Karanganyar, Sragen. Petani jagung diposisikan sebagai petani agrobisnis yang handal dan tidak ada kata bakal rugi atau disengsarakan CV Mutiara Bumi selaku mitra usaha.

Menurut dia, petani jagung atau anggota Kelompok Tani yang terlibat dalam kemitraan dengan perusahaannya akan mendapat benih jagung unggul, pestisida, pupuk serta biaya olah lahan. “Hasil panen mereka akan kami beli dengan harga tinggi sehingga keuntungan petani juga bisa diandalkan. Selama ini jika panen raya atau produksi melimpah petani kecil pasti dipermainkan tengkulak dengan harga rendah. Dengan pola kemitraan kami ini akan menghindari aksi tengkulak,” papar Direktur CV Mutiara Bumi Sragen didampingi Kepala Biro Teknis Yanto dan Biro Humas Totok Sukamto.

Ditambahkan Hesti, petani jagung daerah lain yang sudah menjalin kemitraan dengan CV ini mampu meraup untung bersih rata-rata Rp 14 juta per hektare. Angka tersebut dengan estimasi hasil panen jagung 7 ton per hektare. “Padahal di lapangan petani mitra kami ini sekali panen mendapat 8 hingga 10 ton per hektare,” paparnya sembari menambahkan dengan pola tradisional atau non kemitraan rata-rata ubinan jagung hanya 4-4,5 ton per hektare.

Dalam melakukan program kemitraan agribisnis jagung ini CV Mutiara Bumi juga menggandeng BRI Syari’ah, PT Bayer, Asuransi Jasindo serta Pupuk Kaltim. Sehingga, imbuh Totok Sukamto, petani peserta pola ini tidak akan rugi ketika terjadi kemungkinan terburuk hasil panen mereka tidak BEP (break event poin) dengan modal usaha yang dia keluarkan Rp 12 jutaan per hektare.

“Toh para petani peserta pola ini diasuransikan,” ujar Totok sembari menambahkan jika petani selalu mengikuti arahan petugas lapangan maupun tim teknis selaku pendamping maka dipastikan akan untung besar. (Dsh)

 

BERITA TERKAIT