Petani Masih Bingung Pakai Kartu Tani

Editor: KRjogja/Gus

SUKOHARJO (KRjogja.com) – Teknis pelaksanaan program Kartu Tani masih membinggungkan. Banyak persoalan yang dikeluhkan oleh petani termasuk pengecer. Salah satunya berkaitan dengan sistem pembayaran dan pengambilan pupuk. Sebab banyak petani di Sukoharjo statusnya hanya penyewa lahan sedangkan pemiliknya berada di luar daerah.

Salah satu petani asal Kelurahan Sonorejo, Kecamatan Sukoharjo Kota Parmin, Rabu (31/1) mengatakan, sudah mendapatkan sosialisasi termasuk menerima Kartu Tani. Namun Parmin mengaku kebinggungan untuk menggunakannya. Faktor penyebabnya karena ada banyak perubahan teknis dibanding sistem manual yang sudah lama diterapkan.

“Paling sepele saja untuk mengambil pupuk dalam sosialisasi oleh petugas Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo harus diambil oleh pemilih lahan. Padahal saya hanya penyewa lahan. Pemiliknya orang Kota Solo sangat sibuk kalau disuruh ke sini hanya untuk ambil pupuk sulit cari waktu longgar. Jelas menyulitkan saya,” ujar Parmin.

Parmin juga kebinggungan berkaitan dengan teknis pembayaran saat mengambil pupuk. Sebab sebelumnya bisa dilakukan manual dengan mengambil dan langsung membayar. Namun sekarang ada perubahan menggunakan kartu dan dibayar melalui elektronik.

“Kendala lainnya petani biasanya mengambil pupuk lebih dulu kemudian bayar nanti di belakang dengan cara diangsur. Tapi sistem sekarang harus langsung bayar lunas. Itu juga menyulitkan,” lanjutnya.

Petani asal Desa Sidorejo, Kecamatan Bendosari Ratmi mengakui hal yang sama. Meski Kartu Tani sudah dimiliki namun belum digunakan karena masih binggung. “Saya petani saja binggung apalagi pengecernya. Sebab semua berubah dari manual ke elektronik,” ujar Parmi.

Parmi mengaku masih binggung saat mengambil pupuk dengan menggunakan Kartu Tani. Sebab kartu harus digesek menggunakan mesin Electronic Data Capture (EDC) di pengecer. “Kartu Tani itu katanya harus diisi uang dulu baru bisa dipakai untuk beli pupuk. Cara mengisinya bagaiamana,” lanjutnya.

Salah satu pengecer pupuk Sari Tani di Kelurhaan Bulakrejo, Kecamatan Sukoharjo Kota Sarimin mengatakan, pelaksanaan penggunaan Kartu Tani belum diterapkan. “Saya sudah terima mesin EDC dan petani juga menerima Kartu Tani. Tapi program belum dilaksanakan. Katanya masih menunggu kesiapan lain,” ujarnya.

Sarimin mengatakan, sebagai pengecer dirinya sama seperti petani masih binggung. “Perubahan sistem dari manual ke elektronik harus bertahap. Sebab kebiasaan petani memang mengambil pupuk dulu dan membayar dengan cara mengangsur. Sengaja seperti itu karena ada faktor kekeluargaan dan kedekatan antara petani dan pengecer. Kalau harus bayar lunas sulit,” lanjutnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Netty Harjianti, mengatakan, penggunaan kartu tani di Sukoharjo masih dalam persiapan. Sejak pertengahan tahun 2017 lalu sudah dilakukan sosialisasi, pendataan dan pembagian kartu tani. Penggunaanya sendiri direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2018.

Sampai sekarang baru terdata dan dibagikan sebanyak 24 ribu keping kartu tani. Petani yang sudah mendapatkan berasal dari semua wilayah di Sukoharjo. Jumlah tersebut diakui Netty masih jauh dari total perencanaan awal sekitar 50 ribu keping kartu tani.

Kendala yang dihadapi yakni berkaitan dengan pemilik sawah bukan berasal dan tinggal di Sukoharjo. Sawah tersebut hanya disewakan kepada petani penggarap. Petugas saat melakukan pendataan hanya menemukan petani penggarapnya saja. Sedang saat dilakukan pengecekan ke alamat pemilik tanah tidak ditemukan.

“Kata petani penggarap pemilik tanah tinggal di Solo. Saat kita datangi ternyata tidak ada orangnya dan alamatnya juga tidak jelas. Itu kendala terbesar. Jadi kami minta sampai akhir Januari petani dan khususnya pemilik sawah bisa segera mendaftar,” ujar Netty Harjianti. (Mam)

 

BERITA REKOMENDASI