Petani Mengeluh Kenaikan HET Pupuk Subsidi

Editor: KRjogja/Gus

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Kenaikan harga eceran tertinggi (HET) pupuk subsidi dikeluhkan petani. Selain modal bercocok tanam membengkak, petani juga pesimis pupuk subsidi mudah diperoleh. “Kami keberatan dengan kenaikan harga pupuk bersubsidi itu karena kuotanya sudah dikurangi, harganya malah dinaikkan,’’ ujar Ketua Gabungan Kelompok Tani 2 Desa Nangsri, Marno, Jumat (15/1).

Hal yang sama juga disampaikan Wiyono, petani di Desa Nangsri yang mengatakan, kenaikan Rp 400 rupiah per kilogram untuk pupuk urea memberatkan. Ia membutuhkan sedikitnya empat sak di awal masa tanam.

“Hitung saja coba. Kenaikannya Rp 400 ribu per kilogram. Kalau 1 sak urea itu 50 kilogram. Jadinya kenaikan Rp 20 000. Itu memberatkan,” kata Wiyono.

Belum lagi, ia juga masih harus membeli pupuk non subsidi yang harganya dua kali lipat lebih mahal dari pupuk subsidi, akibat pembelian pupuk subsidi yang dibatasi. Hal itu ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi lahan dari beberapa sawah garapan yang ia kerjakan.

“Saya membeli pupuk subsidi 2 kali tiap masa tanam harganya Rp 110 ribu. Masih ditambah beli pupuk non subsidi harganya Rp 290 ribu,” terang Wiyono.

Diberitakan sebelumnya, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah mengeluarkan SK kenaikan harga pupuk bersubsidi.

Untuk HET pupuk bersubsidi jenis urea, jika tahun lalu per 1 kilogram harganya Rp 1.800,00, maka tahun ini naik menjadi Rp 2.250,00 per kilogram. Selain urea yang naik Rp450 perkilogram, tiga jenis pupuk lainnya mengalami hal serupa. SP-36 dari semula Rp2.000 menjadi Rp2.400, ZA Rp1.400 menjadi Rp1.700, pupuk organik Rp500 menjadi Rp800. Sedangkan NPK masih sama yakni Rp2.300 perkilogram.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Karanganyar Anung Marwoko mengatakan masih banyak petani kesulitan menebus pupuk subsidi akibat regulasinya kurang mudah diakses.

“Sebagian petani di desa tersebut masih belum masuk e-RDKK. Ada lagi persoalan NIK yang tidak sesuai. Jadi masih banyak yang belum dapat Kartu Tani agar bisa menebus pupuk. Sedangkan kalau pakai formulir harus masuk e-RDKK dan yang belum masuk tidak bisa membeli di toko pupuk. Ini baru sample satu desa, belum semua desa di Karanganyar,” jelas dia

Terkait penggunaan formulir bagi petani yang belum mendapatkan kartu tani, Anung mengatakan masih banyak toko pupuk yang tidak menerima sistem tersebut. (Lim)

Petani menata pupuk subsidi yang dibelinya dari pengecer. (Foto:Abdul Alim)

BERITA REKOMENDASI