Polri Cek Ketersediaan Obat di Apotek

Editor: Ivan Aditya

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com – Polri, TNI dan Satpol PP Kabupaten Temanggung mendatangi sejumlah apotek untuk mengecek ketersediaan obat dan memastikan pengelola patuh dalam menjual obat pada masyarakat.

Kapolres Temanggung AKBP Burhanuddin mengatakan pengecekan diperlukan untuk memastikan ketersediaan obat di apotek dalam jumlah aman. Sebab dalam beberapa waktu terakhir ada peningkatan permintaan obat dari masyarakat.

“Keterangan dari pengelola apotek, rata-rata ketersediaan obat dalam jumlah yang cukup, meski ada peningkatan permintaan dari masyarakat,” kata AKBP Burhanuddin, ditemui saat pemantauan di apotek Sehat Abadi, Selasa (06/07/2021).

Dia mengatakan harga jual obat dipastikan masih pada harga eceran tertinggi (HET). Penimbunan obat juga menjadi atensi Polri, yakni jangan sampai ada penimbunan, lantas menjualnya dengan harga diatas HET. Termasuk pula dalam pemantauan adalah penjualan obat keras, yakni mana yang boleh dijual, dijual dengan resep dokter dan yang tidak boleh dijual.

Dia berharap di Temangggung tidak ada kekosongan obat-obatan yang dibutuhkan masyarakat, penimbunan obat dan penjualan obat diatas HET. Polri akan tegas menindak pengelola yang melanggar aturan dalam penjualan obat. “Jika ada pelanggaran, jika memungkinan ditutup akan ditutup,” tegasnya.

Dia menambahkan dalam beberapa waktu terakhir seiring peningkatan kasus Covid-19 dan pemberlakukan PPKM Darurat ada peningkatan permintaan obat.

Apoteker apotek Sehat Abadi, Binari Dina mengatakan ada peningkatan permintaan obat, vitamin dan susu murni dari masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Obat yang banyak dicari adalah obat flu, paracetamol dan beberapa vitamin terutama vitamin C. Selain itu produk kemasan susu murni.

“Memang ada beberapa produk obat yang kosong, lalu kami arahkan obat lain yang fungsinya sama, untuk harga obat telah naik sekitar 20 persen,” kata dia.

Disampaikan pembelian obat oleh masyarakat juga dibatasi. Warga hanya boleh membeli maksimal 2 strip, atau dua puluh butir. Langkah itu sebagai antisipasi adanya penimbunan.

“Kami harap tidak ada panic buying, yang justru berdampak negatif. Kami pastikan ketersediaan obat aman, namun jangan beli dalam jumlah banyak,” kata dia. (Osy)

BERITA REKOMENDASI