Prof Andrik: Dewan Pinisepuh Harus Dilibatkan Dalam Proses Pengambilan Putusan Suksesi Mangkunegaran

“Yang penting tidak meninggalkan tradisi keturunan Adipati Mangkunegara. Bisa putra, ponakan dan adik, atau cucu. Dewan Pinisepuh  punya hak untuk memilihnya. Paling tidak memberi penilaian kapabilitas calon tersebut yang layak menjadi Adipati Mangkunegaran X,” jelasnya.

Surojo mencontohkan, saat pergantian atau suksesi Raja Mangkunegaran I ke Pura Mangkunegaran II, bukan langsung putra raja. Bahkan paling mencolok adalah saat suksesi Mangkunegaran V ke Raja Mangkunegaran VI.

Saat itu pemilihan juga situasional, karena Mangkunegaran VI adalah anak Mangkunegaran ke IV. Pasalnya selain jiwa militer, tetapi dikenal sosok yang sangat mumpuni secara manjerial dan pebisnis hebat kala itu.

“Mangkunegaran II bukan putra Raja Mangkunegara I. Suksesi sangat rasional. Mangkunegara VI dilantik menduduki jabatan tatkala pada masa Mangkunegara V dilanda krisis ekonomi. Saat itu Raja Mangkunegara IV merintis industri (sangat maju), seorang kepala pemerintahan dan enterprenuer hebat,” terangnya.

Prof Andrik menambahkan Raja (Adipati)  dan masyarakat itu ibarat keris dan warangka. Raja itu keris, sementara masyarakat itu warangka atau selubung yang terbuat dari kayu.

“Ada hubungan timbal balik di situ. Tentang sesuai situasi. Meskipun tidak punya suara yang menentukan pengganti Gusti Mangku IX, tapi ada spirit memberikan masukan. Mengingat Pura Mangkunegaran sangat luar biasa asetnya dan SDM-nya, harus dikelola dan dimaksimalkan kembali,” jelasnya.

BERITA REKOMENDASI