PTM Bakal Digelar, Secercah Asa Bagi Pedagang Seragam Sekolah

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Rencana simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah memantik semangat pengusaha konveksi untuk memproduksi lagi seragam siswa. Para pengusaha berharap bisnisnya kembali menggeliat setelah vakum selama dua tahun. Pemilik toko penjualan seragam sekolah di Karanganyar Kota, Sugiyatno mengaku belum mengetahui informasi rencana simulasi PTM.

Namun jika itu terlaksana, ia berharap para orangtua menyiapkan kebutuhan seragam baru bagi buah hatinya. Sebab, ia meyakini seragam lama peserta didik tidak lagi muat dipakai sekarang. Dalam dua tahun berjalan, tentu pertumbuhan badan buah hatinya pesat. Terakhir kali mereka mengenakan seragam baru pada dua tahun lalu saat kegiatan belajar mengajar masih berlangsung secara tatap muka. Sedangkan saat PTM ditiadakan karena pandemi, kebanyakan tidak terlalu memperhatikan seragam siswa yang menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Kalau sekolah dibuka lagi, harapannya beli seragam baru. Yang lama apa masih muat?” katanya, Minggu (5/9/2021).

Sugiyatno menyampaikan, pada saat kondisi normal, setiap tahun ajaran baru mampu memperoleh omzet puluhan juta rupiah. Kondisi itu berubah drastis sejak tahun ajaran kemarin sampai sekarang yang terpuruk. Tahun ajaran kali ini pun, diakui Sugiyatno, ia tak sampai menjual 100 potong seragam sekolah.

“Penurunan dari 2019 hampir 75 persen. Sebelum pandemi, perhari omzet puluhan juta rupiah. Barang terjual paling tidak 20-25 stel setiap hari. Saya bisa pesan ke konveksi lebih dari 100 stel pakaian,” kata warga Mandungan, Kelurahan Jungke, Kecamatan Karanganyar tersebut.

Di tokonya, ia tak hanya menjual seragam jadi. Tapi juga kain bahan. Pembeli atau tengkulak tidak berani membeli banyak-banyak.

“Masalahnya itu masuk sekolahnya itu belum serentak. Pembeli ya mikir nyari duit susah, kalau beli sekarang kasihan. Andai kata nyicil 1-1 aja. Tapi kalau sekolah mau buka, seharusnya didatangi tengkulak atau pengecer,” kata Sugiyarto.

Hal yang sama disampaikan Bambang Susilo, pemilik toko penjualan seragam sekolah yang berada di lingkungan Bibis, Kelurahan Jungke, Kecamatan Karanganyar.

“Kalau pas tahun ajaran yang normal omzet saya bisa Rp 1,5 juta. Tapi sekarang hampir tidak ada pembelian. Tahun ajaran sekarang ini, baru 50 stel pakaian yang bisa terjual. Semalam itu baru ada 2 stel seragam SMA yang dibeli orang,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Karanganyar, Tarsa mengatakan sekolah diminta menyiapkan diri menjalani simulasi PTM. Rencananya, dimulai pada 13 September. Saat ditanya mengenai pengadaan seragam, ia memastikan sekolah tidak menanganinya. Kebutuhan personal itu diserahkan ke orangtua. (Lim)

PTM

BERITA REKOMENDASI