Puluhan Dusun di Karanganyar Terdeteksi Sulit Air

Editor: KRjogja/Gus

KARANGANYAR (KRjogja.com) – Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar mendata sedikitnya 30 dusun berpotensi kekeringan di musim kemarau tahun ini. Sumber air alami dan buatan mengalami penurunan drastis.

“Kondisinya beragam, tapi teratasi dengan pembuatan sumur bor artesis, air sendang, pamsimas, suplai dari desa terdekat dan sebagainya. Namun, ada beberapa yang terdeteksi krisis,” kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar, Bambang Djatmikio di hadapan sukarelawan bencana dalam rapat antisipasi bencana alam di Kantor Bupati Karanganyar, Senin (18/9).

Dari puluhan lokasi rawan itu, kondisi krisis air akibat penurunan debit terdeteksi di Dusun Karangmanis, Babatok dan Banjar di Desa Banjarharjo, Kebakkramat. Diperkirakan, persediaan hanya cukup sampai sebulan ke depan. Di wilayah Karanganyar Kota, tiga kampung di Kelurahan Gayamdompo mengalami kondisi serupa.

“Di Dusun Gandoan, 15 KK mengandalkan dua sumur. Saat kemarau, air bersihnya minim. Ini yang sedang kami pantau. Dusun Puntuk Mojoroto juga mengalami penurunan debit,” katanya.

Dusun berkondisi sulit air lainnya tersebar di Kecamatan Mojogedang, Gondangrejo dan Jatiyoso. Berdasarkan pemantauan BPBD di lokasi, dusun yang sumber air alami maupun buatan mengering terpaksa meminta suplai air dari desa atau kampung sebelah. Misalnya di Dusun Banyak, Desa Jantiharjo; Dusun Bogangin, Desa Lemahbang; empat dusun di Desa Munggur dan sebagainya.

Lebih lanjut dikatakannya, potensi kekeringan relatif bisa tertangani. Meski begitu, BPBD tetap menyiapkan langkah strategis.

“Kita butuh armada dropping air. Koordinasi dengan PMK, butuh 1 mobil tangki berkapasitas 5 ribu liter. Jika sewaktu-waktu wilayah meminta air bersih. Dropping air itu sesuai permintaan melalui kecamatan,” katanya.

Sementara itu Asisten Sekda Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Kesra, Siti Maesyaroch mengatakan menilai dampak kekeringan di Karanganyar dalam taraf wajar. Suplai air seret masih bisa diatasi.

“Kita siapkan dropping air jika diminta sesuai prosedur. Antisipasinya dilakukan sejak lama. Melalui pamsimas, pembuatan sumur bor artesis dan sebagainya. Paling-paling dampaknya pada pertanian, bukan pada konsumsi utama bagi manusia,” katanya. (Lim)

BERITA REKOMENDASI