Razia ‘Rokok Bodong’ , Petugas Sita 1.000 Bungkus

KARANGANYAR,KRJOGJA.com -Petugas gabungan Satpol PP Pemkab Karanganyar dan Pemprov Jawa Tengah menyita 1 ribu lebih bungkus rokok ilegal dari toko kelontong di wilayah Kebakkramat, Mojogedang dan Jenawi, Rabu (13/11). Rokok tersebut tanpa cukai maupun bercukai palsu.

Kepala Seksi Penindakan Satpol PP Karanganyar, Joko Purwanto mengatakan modus pelaku pemalsuan cukai rokok dan rokok tanpa cukai mulai terang-terangan. Dulunya, barang ilegal itu diselundupkan di kiriman sembako. Namun kini langsung ke dari sales ke penjual di toko.

“Penjual sudah ditanyai. Dari siapakah rokok cukai ilegal itu? Mereka bilang hanya disetori. Tapi tidak tahu siapa jugarannya. Yang menyetor tinggal menagih hasil penjualan. Saat razia, kebetulan tidak bertepatan saat dropping barang. Namun kami terus akan menelusuri alurnya,” katanya kepada KR

.

Sebanyak 25 personel Satpol PP diterjunkan pada razia kali ini. Sebelumnya, lokasi sasaran razia sudah diintai. Di Kebakkramat dan Mojogedang, aparat mendapati ‘rokok bodong’ dijual di etalase toko. Jumlahnya tidak seberapa, namun membuktikan peredarannya belum berhenti. Berbekal scanner hologram, aparat mampu mendeteksi keaslian pita cukai. Selain itu, aparat juga menempel stiker imbauan peredaran rokok ilegal.

“Di Kebakkramat dan Mojogedang, paling hanya satu slop kalau dikumpulkan,” katanya.

Sedangkan di Jenawi, aparat Satpol mendapati rokok bodong sampai 60 karton. Isi tiap karton rata-rata 15-20 bungkus. Rokok tersebut dibalut bungkus berbagai merek lokal dan merek terkenal lainnya. Dikatakan Joko, hasil sitaan pada razia kali ini termasuk terbesar sepanjang tahun 2019.

“Jika dihitung, 1.000 bungkus lebih yang disita,” katanya.

Penyitaan barang bukti dari toko tersebut menjadi perhatian khusus. Penjual berinisial W yang juga pemilik toko itu diwajibkan melapor ke kantor Satpol PP dan diberi pembinaan. Jika mengulangi perbuatannya, ia bakal diproses secara hukum dalam kasus tindak pidana ringan sesuai Perda no 26 tahun 2015 tentang Tribumtranmas.  

“Setahu W, juragan rokok itu dari Sragen. Modusnya memang membidikpasar di perbatasan. Tidak berani sampai ke kota. Adapun barang bukti dilaporkan ke kantor bea cukai agar dimusnahkan,” katanya.

Ia meminta masyarakat membantu pemerintah dalam memberantas perdagangan rokok ilegal. Caranya dengan tidak membeli rokok tersebut. Biasanya, rokok ilegal dijual dengan harga murah.

“Dari distributornya Rp 4 ribu per bungkus. Kemudian dari toko kelontong dijual Rp 6 ribu. Harganya tidak wajar jika dibanding rokok pada umumnya,” katanya. (Lim)

 

BERITA REKOMENDASI