Relawan Bencana dari Karanganyar Siap Dikirim ke Merapi

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Para sukarelawan mitra Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar dinilai siap menjalankan misi kemanusiaan saat bencana alam menerjang. Apalagi dengan jumlah personelnya yang melimpah, dapat menopang kebutuhan mendesak di luar wilayah kerjanya. Tercatat jumlah sukarelawan di Karanganyar mencapai 800 personel dari 40 komunitas.

Bupati Karanganyar Juliyatmono mengatakan dengan jumlah sebanyak itu, penanganan kebencanaan bakal lebih cepat. “Sukarelawan di Karanganyar banyak sekali. Ibaratnya sampai mencari-cari dimana terjadi bencana alam,” katannya usai memimpin apel kesiapsiagaan bencana alam di alun-alun kota, Rabu (11/11/2020).

Berdasarkan catatan BPBD, 40 komunitas relawan tersebut belum semuanya difasilitasi dan dijamin kesejahteraannya secara ideal. Meski demikian, semangat mereka patut diacungi jempol dengan selalu hadir membantu korban. Baik itu banjir, longsor, kebakaran dan angin kencang.

Para sukarelawan tersebut juga siap dikirim ke pengungsian maupun wilayah rawan erupsi Gunung Merapi dalam melaksanakan misi kemanusiaan. “Kita siap membantu ke sekitar lingkungan (luar daerah). Bantuan logistik ke sana biasanya secara spontan,” katanya.

Sementara itu dalam apel tersebut, ia meminta semua pihak saling bersinergi menghadapi bencana alam. Apel gelar pasukan diikuti BPBD, TNI/Polri dan perwakilan semua elemen relawan di Kabupaten Karanganyar.

Penyiapan pasukan dan sarana prasarana dilakukan seiring meningkatnya curah hujan. Sebagaimana diketahui, Kabupaten Karanganyar yang memiliki wilayah berbukit-bukit sangat rawan longsor yang dipicu hujan.

“Komunikasi dan koordinasi menjadi kunci dalam penanganan bencana. Maka semua elemen harus bekerja sama dan saling mendukung,” pesannya.

Sementara itu Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar Sundoro Budi Karyanto membuka simulasi bencana alam tanah longsor di Nglegok Desa Dayu Ngargoyoso dan Desa Menjing Jenawi. “Simulasi ini ditekankan pada penanganan bencana. Proses skenario ada pasien memfungsikan stakeholder, relawan. Bagaimana evakuasinya dan koordinasi,” imbuhnya.

Ia menjelaskan ada perbedaan dalam penanganan bencana pada tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu. Mengingat saat ini masih kondisi pandemi virus Covid-19. Tim tetap mengedepankan protokol kesehatan.

“Tentu berbeda, kita tetap menerapkan protokol kesehatan. Bencana alam menunggu tapi bencana non alam sudah terjadi,” pungkasnya. (Lim)

BERITA REKOMENDASI