Ritual ‘Mahesa Lawung’ Iringi Pemindahan Makam Putri Cempo

Editor: KRjogja/Gus

SOLO (KRjogja.com) – Makam Putri Cempo di Tempat Permakaman Umum (TPU) Nusukan yang terkena program penanganan banjir Kali Anyar, digeser ke tempat lebih tinggi berjarak sekitar 10 meter dari lokasi semula. Proses penggeseran makam tokoh sejarah yang dipercayai warga sekitar sebagai cikal bakal kampung Nusukan ini, diikuti dengan ritual adat Jawa, diantaranya penanaman kepala kerbau yang sering diistilahkan sebagai 'mahesa lawung'.

Koordinator penggeseran makam Putri Cempo, Trihono Setyoputro, menjawab wartawan di kompleks TPU Nusukan, Jumat (26/1), mengungkapkan, ritual pemindahan makam telah diawali sejak Kamis (25/1) ditandai dengan 'wilujengan' serta tirakatan semalam suntuk di cungkup pusara Putri cempo. Pagi hari berikutnya, Jumat (26/1), dilanjutkan prosesi mahesa lawung

yang dilakukan Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo, sedekah bumi, serta ziarah, sebelum memasuki penggalian kerangka jenasah.

Dalam perspektif budaya Jawa, jelasnya, rangkaian ritual seperti itu tak bisa ditinggalkan begitu saja, terlebih menyangkut peristirahatan leluhur yang dikenal warga sekitar sebagai makam keramat. Bahkan Trihono mengaku sebelum menjalani seluruh rangkaian prosesi, melakukan persiapan khusus, baik secara lahir maupun batin. Namun dia enggan merinci persiapan khusus yang dijalaninya, serta peristiwa-peristiwa aneh sebagaimana rumor yang berkembang di tengah masyarakat.

Di kompleks TPU Nusukan tersebut, semula terdapat sebanyak 2.130 pusara, dan seluruhnya dipindahkan ke tempat pemakaman lain sejak akhir tahun 2017 silam. Hanya pusara Putri Cempo bersama dua orang pengikut yang dinaungi dalam satu cungkup, serta satu pusara di bawah pohon beringin yang disebut-sebut sebagai pengawal, digeser ke lokasi lebih tinggi agar tidak tergenang luapan Kali Anyar. (Hut)

 

BERITA REKOMENDASI