Saat Warga Tlogoharjo dan Bayemharjo Wonogiri Menikmati Sinyal Internet

WONOGIRI, KRJOGJA.com – Utomo (60) seorang penjual sayur keliling di Desa Tlogoharjo, Kecamatan Giritontro Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah kini memiliki pekerjaan tambahan. Pria dengan empat orang anak ini kini jadi sosok penting di desanya sebagai penjual ‘sinyal’ internet yang begitu dibutuhkan masyarakat. 

2.400 warga di Desa Tlogoharjo hingga tahun 2019 ini belum menikmati sinyal telpon selular yang secara langsung membuat mereka tak bisa mengakses internet. Provider nasional yang kini telah menginjak kecepatan 4,5 G belum tak menilai seksi lokasi tersebut untuk masuk dalam area jelajah lantaran jumlah penduduk yang dinilai sedikit. 

Lokasi di Tlogorejo sangat luas namun tak sebanding dengan jumlah penduduk yang membuat provider kesulitan masuk. Utomo menjadi perpanjangan tangan Net1, salah satu perusahaan jaringan yang memiliki frekuensi 450 Mhz. 

Utomo yang berdagang sayur pada pagi hari kini sekaligus bertindak sebagai penyedia sinyal bagi sekitar 700 KK di desanya. Ia kini berjualan Mobile Wifi (Mifi) Net1 dan antena penguat sinyal yang akan dipasang di atas atap rumah. Selain itu, sebuah warung kini dikelolanya dengan fasilitas wifi yang jika malam tiba akan dipenuhi anak-anak muda yang minum kopi sembari mengakses internet. 

“Empat bulan terakhir saya jualan sayur sambil jualan modem dan pulsa untuk internet juga. Ya sekarang manfaat saya untuk masyarakat mungkin bertambah karena selama ini warga di wilayah Tlogoharjo dan Bayemharjo harus pergi lebih dari sekilo naik bukit biar dapat sinyal, itupun kalau tidak hujan,” ungkapnya ketika berbincang dengan KRjogja.com Selasa (23/4/2019). 

Benar saja, saat KRjogja.com berada di balai desa setempat, tak ada sinyal sama sekali sari beberapa provider selular yang dibawa. “Ya seperti ini di sini, hanphone semahal apapun tapi tidak ada sinyalnya,” lanjut Utomo tersenyum saat mendengar KRjogja.com mengeluh tidak adanya sinyal. 

Adanya satu provider yang bisa masuk ke wilayah desanya menurut Utomo menjadi angin segar bagi seluruh warga. Meski tetap membutuhkan waktu lebih dari lima hari untuk aktivasi pertama kali, namun warga tampaknya begitu antusias karena bisa menikmati jaringan internet yang sebelumnya bisa mudah diakses tetangga-tetangga di desa sebelah di Wonogiri. 

“Ini harapan saya bisa menggerakkan potensi warga di sini karena kami punya kayu jati, akasia yang bisa diolah jadi mebel atau alat perumahan lainnya. Kalau ada internet kan bisa jualan langsung jadi perekonomian bisa berkembang juga,” tandasnya. 

Sementara CEO Net1, Larry Ridwan yang secara langsung mengunjungi warung wifi milik Utomo di Desa Tlogoharjo mengungkap penyediaan jaringan internet untuk wilayah Terluar, Tertinggal dan Terdepan (3T) merupakan salah satu komitmen. Selama ini menurut dia, daerah-daerah tersebut tak tersntuh provider dengan frekuensi tinggi karena dianggap kurang menguntungkan. 

“Kami berusaha hadir dengan 4G LTE karena kami punya keunggulan frekuensi 450 Mhz yang cakupan lebih luas sehingga tak masalah ketika jumlah penduduk di sebuah desa terhitung sedikit dengan jarak luas, tetap bisa terkover lebih luas. Kami baru mulai beroperasi sejak April 2018 lalu dan saat ini sudah ada 3000 lebih jaringan mitra di seluruh Indonesia,” ungkapnya. 

Larry mengungkap selain menyediakan sinyal internet bagi masyarakat di kawasan terpencil, Net1 berusaha juga untuk membangkitkan perekonomian masyarakat secara riil di pedesaan. “Mitra seperti Pak Utomo di Wonogiri ini bisa buka warung wifi, lalu ikut jualan mifinya sehingga meningkatkan perekomian mereka. Kemudian ketika di daerah ada potensi namun selama ini susah jual ke luar dan hanya berhenti di tengkulak saja, harapan kami dengan adanya internet bisa dipasarkan lebih luas. Net1 berkomitmen untuk membantu kedepannya,” ungkapnya lagi. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI