Saksi Ahli Guru Besar UGM: Ganti rugi dapat mengurangi tuntutan

SOLO, KRJOGJA.com – Sidang lanjutan kasus tabrakan maut di Solo dengan terdakwa  IA kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Solo, Rabu (28/11/2018). Kali ini saksi ahli yang dihadirkan adalah Profesor Eddy O. S. Hiariej, Guru Besar Hukum Pidana pada Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM), Yogyakarta. 

Dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Solo yang dipimpin ketua majelis  Krosbin Lumbangaul SH itu 
 Eddy menegaskan bahwa perkembangan hukum modern saat ini telah beralih dari yang bersifat retributif menuju restoratif. Yakni proses penyelesaian hukum pidana yang menekankan kepada ganti rugi. 
Semakin besar ganti rugi yang berhasil dikenakan, maka tuntutannya semakin sedikit. Begitu pun sebaliknya, semakin kecil ganti rugi, maka tuntutannya semakin besar. 

Meski begitu, ia mengatakan bahwa dalam hukum pidana, ganti rugi yang telah dilakukan oleh pelaku tidak serta merta menghapus hukuman pidana. “Namun bisa menjadi pertimbangan bagi hakim dalam memberikan vonis,” ujarnya.

Karena itu, pemberian keringanan hukuman dari ganti rugi yang diberikan juga harus menjadi perhatian dan pertimbangan bagi para penuntut umum dalam mengajukan tuntutan. 
Menurut Eddy, di negara lain, penuntut umum tidak hanya bertugas melakukan penuntutan saja, tapi juga harus berperan sebagai pemimpin mediasi dari kedua belah pihak yang berpekara. “Seperti di Belgia, penuntut umum itu mempunyai dua tugas yaitu melakukan penuntutan umum dan memimpin mediasi,” kata Eddy. 

Seperti diketahui, meskipun sidang tetap berjalan, namun keluarga korban kecelakaan lalu lintas di Mapolres Solo 22 Agustus 2018, Eko Prasetyo telah menyepakati perdamaian dan menerima santunan biaya hidup yang diberikan oleh keluarga terdakwa IA.

Dalam sidang sebelumnya, Sutardi, orang tua  Lia, mengakui bahwa keluarga telah menerima uang duka dan menyepakati santunan biaya kesehatan, pendidikan dan biaya hidup lainnya dari keluarga Iwan. 

Ayah alm Eko yaitu Suharto dalam dalam persidangan sebelumnya juga memeluk IA sebelum persidangan dimulai. Saat itu IA pun langsung menyampaikan permintaan maaf atas terjadinya kecelakaan tersebut. Suharto pun langsung memberikan maaf kepada IA dan mengaku sudah ikhlas. 
"Ini semua sudah takdir. Kami ikhlas dan memaafkan," kata Suharto usai persidangan awal November lalu.

Peristiwa kecelakaan pada 22 Agustus lalu itu merupakan musibah bagi kedua keluarga. Tidak ada unsur kesengajaan, apalagi perencanaan bahwa peristiwa tersebut akan terjadi. Oleh karena itu IA sangat menyesal. Sebagai orangtua dan juga seorang kepala keluarga, ia menyadari betul rasa kehilangan keluarga almarhum, karena itu ia bertanggungjawab penuh terhadap keluarga alm Eko.(Hwa).
 

BERITA REKOMENDASI