Satu Hari Penuh Mengenang Gesang

SOLO, KRJOGJA.com – Perhelatan satu hari penuh dengan berbagai mata acara, menandai peringatan satu abad maestro keroncong Gesang Martohartono, kendati yang bersangkutan telah meninggal dunia 20 Mei 2010 silam. Bahkan untuk mengenang nama besar Sang Maestro, Omah Sinten mendedikasikan sebagian lahan menjadi semacam monumen berupa panggung Gesang, sekaligus ruang publik yang dapat dimanfaatkan berolah seni bagi siapapun secara gratis.

Peringatan satu abad yang dihitung dari hari kelahiran, jelas Sadrah Deep, Koordinator kegiatan kepada wartawan, di Omah Sinten, Selasa (28/9/2017), biasanya memang digelar saat yang bersangkutan masih hidup. Kalaupun perhelatan satu abad dilangsungkan ketika Gesang telah meinggal dunia, lebih dilandasi dengan spirit almarhum yang senantiasa hidup dalam kesederhanaan, walau nama dan karya-karyanya mendunia. Secara fisik, Gesang boleh meninggal dunia, tetapi spirit dalam berkarya tetap hidup.

Perhelatan akan dipusatkan di Omah Sinten, sebuah rumah makan unik berpangsa pasar wisatawan mancanegara, pada Minggu (1/10). Sedangkan berbagai agenda dipersiapankan untuk memperingati satu abad Gesang selama satu hari penuh, mulai dari ziarah, pemutaran film dokumenter Gesang, pameran foto serta benda-benda milik almarhum, sarasehan seni, hingga pementasan musik keroncong. "Bahkan selama satu hari penuh itu, Omah Sinten menggratiskan menu masakan kepada masyarakat," ujar Sadrah.

Sementara Slamet Raharjo, pemilik Omah Sinten, menambahkan, kiprah Gesang Martohartono dalam dunia musik keroncong, sungguh menjadi sumber inspirasi bagi siapapun dalam berkarya. Dia tidak pernah silau dengan nama besar yang disandangnya, bahkan senantiasa hidup dalam kesederhanaan, baik dalam perilaku maupun sosial ekonomi. Kesederhanaan dalam balutan nama besar itu pula, menurutnya menginspirasikan dirinya untuk membuat pangung Gesang yang dapat dimanfaatkan siapapun berolah seni tanpa dipungut biaya.

Masyarakat tidak perlu mengajukan izin kepada Omah Sinten sebagai pemilik lahan untuk memanfaatkan panggung Gesang, ujarnya, namun cukup berkoordinasi dengan komunitas #Kotasolo. Pun pemanfaatan pangung Gesang tidak sebatas untuk pentas musik keroncong, tetapi juga terbuka bagi genre kesenian lain. Kebetulan, panggung Gesang ini berlokasi di ujung Koridor Ngarsopura persis di depan Pura Mangkunegaran, sehingga sangat strategis sebagai ajang berkesenian bersifat publik.

Tidak ada niat apapun, terlebih bermotif ekonomi, jelas Slamet Raharjo, panggung Gesang lebih sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Sang Maestro dalam dunia musik keroncong. Meski begitu dia berangan-angan, monumen kecil berupa panggung Gesang ini, suatu saat bisa menginspirasikan kepada siapapun untuk berkarya, terutama dalam bidang kesenian.(Hut)

 

BERITA REKOMENDASI