Sejahrawan: KRMH Roy Kandidat Mangkunegoro Dinilai Paling Pengalaman Kepemimpinan dan Minim Kontroversi

Diakui Hartono , KRMH Roy juga punya nilai minus karena tidak bergelar Gusti Pangeran Haryo (GPH).

“Tapi kapasitas beliau sebagai pemimpin sudah diakui. Apalagi kini yang dibutuhkan adalah manajerial agar membuat Mangkunegaran bangkit secara ekonomi. Yang kini justru dipertanyakan pilih substansi kompetensi bisa mengatasi permasalahan atau sekadar gelar bangsawan yang menyatakan anak raja namun ya berhenti di atas kertas itu,” papar Hartono dan Surojo.

Kanjeng Roy, menurut Surojo bak berperan seperti pendahulunya KGPAA Mangkunegoro VI (bertahta 1896). Mangkunegoro VI adalah anak Mangkunegoro IV jadi bukan putra Adipati yang berkuasa sebelumnya. Pasalnya selain jiwa militer, tetapi dikenal sosok yang sangat mumpuni secara manjerial dan pebisnis hebat kala itu.

Seperti Mangkunegoro VI, orangnya tegas punya prinsip. Mangkunegoro VI tegas berani  memotong pengeluaran kerabat Mangkunegaran yang tidak  ada hubungan dengan perusahaan pabrik gula baik Colomadu dan Tasikmadu. “Ketegasan memiliki prinsip itu kalau dipadankan dalam keyakinan Jawa, orang yang kuat mampu menerima wahyu keprabon,” tutur Surojo.

Suksesi di Mangkunegaran lanjut Surojo sangat rasional. Mangkunegoro II juga bukan putra Raja Mangkunegoro I namun sesuai dengan kebutuhan saat itu. Mangkunegoro VI dilantik menduduki jabatan tatkala pada masa akhir pemerintahan Mangkunegoro V, Puro Mangkunegaran tengah dilanda krisis ekonomi.

“Saat itu Raja Mangkunegoro VI berhasil mengatasi krisis bahkan  merintis industri sangat maju, seorang kepala pemerintahan dan enterprenuer hebat,” pungkas Surojo.

Ditambahkan Surojo sesuai keyakinan Jawa dalam hal suksesi sebuah kerajaan memang ada aturan tidak tertulis yang menjadi acuan. Namun antara Pura Mangkunegaran tidak bisa disamakan dengan kraton Kasunanan Surakarta yang secara tegas mengatur kalau raja pengganti harus keturunan raja yang berkuasa.

“Kalau di Pura Mangkunegaran polanya tidak baku, pengganti raja yang baru meninggal bisa anaknya, bisa cucu bahkan keponakan raja. Tidak harus putra dari raja yang berkuasa seperti kraton Kasunanan Surakarta,” pungkasnya.(Hwa)

BERITA REKOMENDASI