Sejarawan UNS: Suksesi Mangkunegaran Tak Ada Pola Tetap, Putra atau Cucu Bisa Jumeneng Adipati

Menurut Prof Suhartono dampaknya selalu negatif, yaitu tidak akur, perpecahan dan lebih besar lagi membahayakan persatuan bangsa. Prof Suhartono yang lahir di Boyolali dan dibesarkan di Klaten sehingga lebih merasakan aura Praja Mangkunegaran dan Kasunanan Surakarta pewaris Kerajaan Mataram selain Kasultanan Yogyakarta dan Puro Pakualaman.

Subject matter, lanjut Prof Suhartono  yang diminta oleh panitia adalah untuk mengaitkan pergantian tahta di istana MN ini agar tidak lepas dari nilai-nilai luhur yang telah dilakukan sejak pergantian MN (Mangkunegaran)  I hingga  MN VIII. Dikatakan bahwa aspek kultural lebih mengena ketimbang politik (Soejatno, 1971), yang tujuannya dalam jangka pendek agar tidak terjadi ‘masalah’ dan jangka panjang agar Himpunan  Kawula  Muda  Mangkunegaran (HKMM) tetap berpegang teguh pada nilai luhur di era digital.

“Karena era digital ini, di satu sisi mempunyai daya destruktif luar biasa, paling labil mampu menggoyahkan sendi-sendi dan melunturkan nilai luhur (high value), kearifan lokal (local wisdom), dan karakter bangsa (nation character). Nilai adalah komitmen bersama tentang suatu hal meski secara kualitatif telah diakui sebagai sesuatu yang penting dan sangat berguna bagi sekelompok orang atau komunitas. Orang bisa membedakan antara harga dan nilai, yang bisa saya bedakan antara harga atau rega dan nilai atau aji. Meski secara struktural nilai atau aji bisa dibedakan menjadi aji luhur (inggil), madya, dan andhap,” tuturnya.

Terkait pihak HKMM telah bersurat ditujukan kepada prameswari Gusti Kanjeng Putri (GKP) Prisca Marina Mangkunegoro IX, pihak KRTH Hartono Wicitrokusumo, Ketua Yayasan Tridarmo Mangkunegaran  mengatakan pihaknya juga telah berkirim surat baik kepada GKP Prisca Marina juga Gusti Ratu Ayu (GRAy) Retno Satuti Rahadiyan Yamin dan GRAy Retno Rosati Hudiono Kadarisman. Ketiganya adalah Keluarga Inti yang berwenang memilih Mangkunegoro X.

BERITA REKOMENDASI