Selongsong Ketupat Laris Manis, Pedagang Musiman Untung

Editor: KRjogja/Gus

KARANGANYAR (KRjogja.com) – Perajin selongsong ketupat kebanjiran order pembuatannya selama sepekan setelah lebaran Idul Fitri. Sebagian berinisiatif menjemput pembeli di pasar tradisional.

 

Seperti halnya yang dilakoni pasangan suami istri asal Desa Gemantar, Jumantono, Sarno (55) dan Ginah (48). Bersama perajin selongsong ketupat lain asal desanya, kesempatan mendulang keuntungan tak disia-siakan.

“Ini hari terakhir berjualan ketupat di Pasar Jungke sejak dimulai Sabtu (9/7) kemarin. Seharinya bisa laku 50 ombyok atau 500 untai selongsong ketupat,” ujar Sarno kepada KR

di pelataran Pasar Jungke, Karanganyar Kota, Selasa (12/7).

Tiap 10 untai selongsong ukuran jumbo dijual Rp 8 ribu sedangkan ukuran standar Rp 5 ribu. Sarno mengaku memperoleh keuntungan Rp 250 ribu-Rp 300 ribu per 50 ombyok selongsong ketupat. “Kalau tiap hari bisa seperti ini mau saja. Namun ini hanya musiman,” ujar pria yang sehari-hari bercocok tanam itu.

Ginah menambahkan, harga jual selongsong saat ini naik jika dibandingkan tahun lalu Rp 5 ribu per gambyok jenis jumbo dan Rp 3.500 jenis standar. Untungnya, perubahan harga ini dimaklumi pelanggan. Adapun bahan baku berupa daun kelapa yang masih muda atau janur tersedia melimpah di kampung halaman. Perajin selongsong ketupat sekaligus pedagang musiman ini harus bergegas menjual dagangannya itu sebelum janur menua dan berubah warna.  

“Selongsong dari janur paling mudah didapatkan, dibandingkan dari daun pandan. Namun harganya lebih mahal karena tak semua pohon kelapa memiliki daun bagus. Ini saja sak papah janur Rp 10 ribu-Rp 12 ribu,” katanya seraya menyebut dirinya mendapatkan bahan baku dari kebun sendiri.

Menjelang lebaran ketupat, para pedagang musiman asal Jumantono dapat ditemui di pasar-pasar tradisional wilayah Karanganyar sampai Kota Solo. Kualitas bagus selongsong ketupat buatan mereka membuat bisnis musiman ini bertahan sampai sekarang. (M-8)

BERITA REKOMENDASI