Semarak Jenang Solo, Belasan Ribu Takir ‘Ludhes’

Editor: Agus Sigit

SOLO, KRJOGJA.com – Belasan ribu takir jenang ‘ludhes’ tak tersisa diserbu pengunjung dalam Semarak Jenang Solo di kawasan Ndalem Joyokusuman, Solo, Senin (17/2). Bahkan sebelum acara yang didahului kirab dengan start di Stadion Sriwedari dan berakhir di Ndalem Joyokusuman itu resmi dibuka, pengunjung mulai memadati ratusan stand jenang, terutama areal parkir Ndalem Joyokusuman. Pengunjung pada umumnya tak sekadar menikmati satu jenis jenang, tetapi juga mencicipi 17 jenis jenang lain yang disajikan panitia.

Pelaksanaan Semarak Jenang Solo tahun ini, ungkap Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo, jauh lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Paling tidak, perilaku pengunjung yang membuang jenang, bahkan menginjak-injak dengan dalih cita rasa tak sesuai keinginan sebagaimana terjadi pada event serupa terdahulu, tak ditemukan lagi.

Selama acara berlangsung, orang nomor satu di Solo ini berulangkali mengingatkan pengunjung melalui pengeras suara, agar tidak membuang jenang apalagi menginjak-injaknya. Jika memang tidak suka dengan jenis jenang tertentu, lebih baik tidak mengambil daripada akhirnya hanya dibuang. “Ingat, membuang makanan, sama halnya dengan kita menyumbat rezeki kita sendiri,” tegasnya.

Dalam konteks budaya Jawa dan Indonesia pada umumnya, tambah pria yang akrab disapa Rudy, tradisi jeneng lekat dengan hidup manusia mulai dari awal kehidupan hingga kematian. Ketika kandungan seorang ibu memasuki usia 7 bulan, misalnya, ada beberapa jenis jenang yang merupakan bagian dari ritual ‘mitoni’, atau juga menjelang kelahiran, dikenal jenis jenang ‘procotan’. Demikian pula dalam peristiwa kehidupan lain, selalu saja ada jenang sebagai bagian dari ritual menandai peristiwa kehidupan.

Sedangkan Pemkot Solo yang sejak beberapa tahun lalu menggelar Semarak Jenang Solo yang dikaitkan dengan peringatan Hari Jadi Kota Solo, lebih sebagai bentuk pelestarian khasanah kuliner Kota Solo. Dalam beberapa tahun belakangan, sejumlah jenis jenang mulai dilupakan. Ini perlu diperkenalkan lagi, tambahnya, bahkan tak menutup kumungkinan dikembangkan menjadi potensi ekonomi.

Di sisi lain, secara budayawi berbagai jenis jenang menyiratkan filosofi keberagaman bangsa Indonesia, tanpa harus terikat sekat agama, suku, ras, ataupun perbedaan lainnya. Ketika seluruh elemen bangsa menyadari keberagaman itu dalam ikatan budaya, dipastikan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam balutan damai dan sejahtera. (Hut)

BERITA TERKAIT