Sembilan Warga Karanganyar Meninggal Karena Leptospirosis

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Sebanyak 9 orang meninggal dunia akibat leptospirosis di Kabupaten Karanganyar sepanjang Januari – Oktober 2020. Dari 18 orang yang terjangkit, 9 diantaranya tak tertolong.

“Ini musim penghujan. Selain waspadai DBD juga leptospirosis. Sangat erat kaitannya dengan kebersihan lingkungan. Terutama air yang menjadi media pembawa penyakit,” kata Plt Kepala Dinas Kesehatan Karanganyar, Purwati, Sabtu (24/10/2020).

Berdasarkan data dari dinasnya, sembilan kasus kematian tersebut tersebar di 5 kecamatan meliputi 3 kasus di kecamatan Colomadu, 1 kasus di Gondangrejo, 2 kasus di Jaten, 1 kasus di Tasikmadu dan 2 kasus di kecamatan Kebakkramat. Sementara 18 kasus yang telah ditemukan tersebar di 8 kecamatan.

Dari hasil penelitian epidimologi petugas dinas kesehatan, rata-rata penularan dipicu terpercik air seni tikus dan hewan ternak seperti kambing dan sapi yang telah terinfeksi bakteri leptospira. Selain itu juga disebabkan dari genangan air yang mengandung bakteri tersebut, seperti di area persawahan atau lokasi kandang ternak yang lembab.

Mengenai tingginya tingkat kematian, kebanyakan masyarakat masih banyak abai dengan gejala yang ditimbulkan. Mengingat gejala hampir mirip dengan penyakit flu yakni suhu tubuh meningkat dan demam sehingga masyarakat hanya melakukan pengobatan ringan atau berganti-ganti dokter hingga mengakibatkan penanganan tidak optimal.

Lebih lanjut, Purwati mengatakan pihaknya akan kembali menggencarkan sosialisasi pencegahan leptospirosis melalui puskesmas masing-masing. Berdasarkan catatan, kasus leptospirosis di tahun 2017 sebanyak 7 kasus dengan angka kematian 2 kasus, di tahun 2018 sebanyak 7 kasus dengan angka kematian sama 2 kasus, sedangkan pada tahun 2019 meningkat menjadi 14 kasus dengan angka kematian 4 kasus, dan di tahun 2020 kembali meningkat dengan total 18 kasus dan angka kematian 9 kasus. (Lim)

BERITA REKOMENDASI