Sidak, Tim Temukan Penyebab Komoditas Sembako Bergejolak

Editor: Ary B Prass

Sementara itu pedagang Pasar Jungke, Watik mengatakan terjadi penurunan transaksi harian sampai 25 persen jika dibanding momen serupa pada tahun lalu. Sehingga, ia terpaksa menyiasati bisnisnya.

“Karena minyak goreng mahal. Saya kulakan di swalayan grosir saja. Biasanya disetori sales. Tapi ini enggak lagi. Mungkin karena persediaan enggak ada. Migor berkemasan merek sudah Rp 37 ribu per dua liter. Sedangkan migor curah Rp 302 ribu per 17 liter. Itu pun saya melayani pesanan saja dari rumah makan,” katanya.

Watik mengaku penjualannya berkurang karena pembeli memilih berhemat. Ia menyontohkan, telur yang biasanya dibeli perkilo, turun separuhnya di tiap transaksi. Pembeli mengakui akibat harganya mahal.

“Beli telur hanya setengah kilo atau seperempat saja. Enggak seperti dulu,” katanya. (Lim)

BERITA REKOMENDASI