Sidang Vonis Diksar Maut Digelar Kamis

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Sidang pembacaan putusan majelis hakim kasus diksar maut mapala UII Yogyakarta bakal digelar di Pengadilan Negeri (PN) Karanganyar, Kamis (28/09/2017). Guna mengantisipasi hal-hal tak diinginkan, aparat Polres Karanganyar menyiagakan puluhan personel dengan sistem pengamanan terbuka dan tertutup.

“Kantor pengadilan nanti disterilisasi. Sistem pengamanannya seperti saat awal sidang dulu, dengan pemasangan metal detector di pintu masuk. Seluruh tamu diperiksa. Jangan sampai lolos sajam, bahan peledak dan lainnya,” kata Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak kepada KRJOGJA.com, Rabu (26/09/2017).

Diperkirakan sidang pembacaan putusan vonis terhadap dua terdakwa, Angga Septiawan dan M Wahyudi majelis hakim disaksikan keluarga terdakwa, keluarga korban dan anggota mapala UII Yogyakarta. Jumlah pengunjung sidang ini diprediksi lebih banyak dibanding daripada sidang sebelumnya.

Guna mengantisipasi kisruh di ruang sidang, operasi pengamanan terbuka dan tertutup mulai berlaku Rabu (27/09/2017). Sedangkan pada Kamis (28/09/2017), selain disiapkan metal detector juga disiagakan sejumlah anjing pelacak di area kantor PN. “Kita akan pertebal pengamanan dari biasanya. Kita akan terjunkan lima puluh personil, termasuk anjing pelacak,” kata Kapolres.

Sebagaimana diberitakan, tiga peserta The Great Camping (TGC) ke-37 Mapala UII pada akhir Januari lalu meninggal dunia saat pelaksanaan kegiatan tersebut. Korban bernama Syaits Asyam, Ilham Nurfadmi Listia Adi dan Muhammad Fadli.

Dua panitia diksar, Angga dan Wahyudi dituduh menganiaya sampai menyebabkan kematian ketiga peserta. Oleh jaksa penuntut umum, dua terdakwa dituntut 8 tahun penjara. Terakhir kali disidangkan kasus itu bermateri pembacaan duplik kuasa hukum di PN Karanganyar pada Jumat (22/09/2017).

Saat itu, tim kuasa hukum yang dipimpin Achiel Suyanto menilai JPU terburu-buru dan emosional dalam menuntut 8 tahun penjara terhadap kedua terdakwa. Menurut Achiel, pembuktian pasal 170 dan pasal 351 KUHP sebagaimana tuntutan JPU lemah.

Dijelaskannya, dalam pasal 170, JPU tidak bisa membuktikan adanya unsur kekerasan yang dilakukanbersama-sama. Demikian halnya dengan tuduhan pasal 351, JPU juga tidak bisa membuktikan unsur kesengajaandalam perkara itu.

Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Karanganyar, I Gde Wirajana, melalui Kasi Pidum Tony Wibisono, mengatakan, JPU tetap optimistis dengan tuntutannya. “Kami menyerahkan sepenuhnya kepada majelis hakim, karena yang berhak menilai adalah majelis hakim,” ujarnya singkat. (Lim)

BERITA REKOMENDASI