Siswi SMP di Karanganyar Lahirkan Bayi Perempuan

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Seorang siswi kelas IX SMP negeri di Kabupaten Karanganyar berinisial AI melahirkan bayi perempuan. Keluarga AI menyembunyikan informasi itu dari sekolah selama masa kehamilannya.

“Jujur sekolah tidak tahu menahu kehamilan AI. Selama dua tahun terakhir pembelajaran daring, sulit memantau perilaku anak,” kata kepala SMP negeri tersebut kepada KRJOGJA.com, Selasa (24/08/2021).

AI melahirkan secara normal di RSUD Karanganyar pada Minggu (22/08/2021) pukul 18.30 WIB. Persalinannya selain didampingi orangtua juga ditunggui ayah biologis bayi yang dilahirkan AI.

Pemuda asal Jumantono Karanganyar itu lulusan SMP di Polokarto Sukoharjo. Pihak sekolah telah mengutus guru BK dan wali kelas untuk menjenguk kondisi AI di RSUD pada Senin (23/08/2021). Bayi berbobot 3 kilogram itu dalam keadaan sehat, begitu pula sang ibu.

Kepala SMPN ini mengaku dilematis menyikapi kasus tersebut. Menurutnya, baru kali pertama sekolah favorit di Karanganyar ini menghadapi aib semacam itu.

“Kasihan masa depan AI jika harus dikeluarkan dari sekolah. Kami juga tidak memiliki dasar mengeluarkannya. Ini sedang dibahas secara internal kelanjutan masalah itu,” katanya.

Kepala sekolah menyampaikan sistem zonasi pada PPDB sulit menyeleksi calon peserta didik sesuai harapan sekolah. Pada kasus AI, gadis itu sudah terlihat kurang konsentrasi belajar sejak duduk di kelas VII. Selain sering bolos, nilai akademik juga kurang bagus. Lantaran menggunakan kurikulum darurat selama pandemi, KBM dan kenaikan kelas terjadi otomatis.

“Sekarang AI menginjak kelas IX. Tatap muka selama setahun saja saat kelas VII. Setelah itu lepas pengawasan. KBM hanya lewat zoom meeting,” katanya.

Anggota Komisi D DPRD Karanganyar Endang Muryani mengaku prihatin dengan kasus tersebut. Ia meminta semua pihak mengambil pembelajarannya. Terutama bagi orangtua, pendidik, pemerintah dan masyarakat luas.

“Bukan semata-mata itu akibat pembelajaran daring. Mungkin juga kurang pengawasan orangtua dan sekolah. Bisa jadi pengaruh buruk gadget,” katanya.

Mengenai aturan pembelajaran daring, hal itu sudah menjadi langkah paling solutif untuk menjaga anak dari penularan Covid-19. Kini tinggal memformulasikan cara membangun karakter generasi muda di luar kelas. (Lim)

BERITA REKOMENDASI