Situs Peninggalan Keraton Surakarta Banyak yang ‘Terlupakan’

SOLO, KRJOGJA.com – Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat memprakarsai kegiatan  sosialisasi Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Pasalnya Keraton Kasunanan Surakarta memiliki banyak aset peninggalan masa lampau yang tersebar di berbagai wilayah di Jawa Tengah dan sekitarnya.

Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Surakarta GKR Koes Moertiyah atau Gusti Moeng telah menggelar kegiatan sosialisasi tersebut.

Tema yang diangkat “Pelestarian dan Pemanfaatan Cagar Budaya Tak Bergerak”.

Kegiatan itu sebagai salah satu upaya mensosialisasikan peninggalan keraton yang ada di wilayah Sukoharjo.

Salah satunya yang sudah mendapatkan biaya revitalisasi dari pemerintah pusat yakni Pesangrahan Langenharjo.

“Padahal banyak sekali peninggalan Kraton Kasunanan Surakarta, termasuk makam Balakan, juga waduk Mulur yang dibagian atasnya ada prasasti Gusti Kanjeng Ratu Paku Buwono IV sebagai tetenger. Meski pembangunannya di masa PB ke IX,” jelasnya, Rabu (26/6/2019).

Disebutkan Gusti Moeng, situs bersejarah peninggalan leluhur Kraton Kasunanan Surakarta saat ini seperti Pesanggrahan Langenharjo kondisinya sangat memprihatinkan. Bangunannya mengalami kerusakan yang cukup parah.

“Renovasi di Pesangrahan Langenharjo dilakukan terakhir kali sudah 20 tahun yang lalu dengan mengganti sirab (atap),” papar Gusti Moeng.

Ditambahkan Humas LDA, KP Edy Wirabumi, pihaknya sangat mendukung jika Pesanggrahan Langenharjo bisa dioptimalkan pengelolaannya menjadi tempat wisata budaya. Namun harus diingat jika pemanfaatannya nanti tidak mengurangi nilai pentingnya sebagai pusat budaya.

“Tapi harus jelas. Pemerintah setempat perlu menyusun blue print atau perencanaan secara matang untuk pemanfaatan Pesanggrahan Langenharjo,” lanjut KP Eddy Wirabumi.

Sementara itu Gusti Puger menambahkan saat ini Pesangrahan Langenharjo tetap dipertahankan keberadaannya. Meski dengan kondisi dana yang terbatas. Ada beberapa bangunan yang rusak harus diperbaiki, seperti bangunan pendapa yang rawan ambruk. Sebagian ditopang menggunakan bambu agar tidak jatuh.

“Padahal pendopo ini masih difungsikan sampai saat ini untuk kegiatan budaya atau sekadar tirakatan,” lanjutnya.

Pesanggrahan Langenharjo ini dahulunya menjadi tempat peristirahatan favorit PB IX yang terletak di pinggiran Bengawan Solo. Tepat di belakang Pesanggrahan juga terdapat sumber pemandian air panas. Namun sayang saat ini airnya sudah tidak panas lagi karena banyak tertutup oleh lumpur.

“Dulu ada dermaga di pinggiran Bengawan Solo untuk berlabuhnya kapal saat Sinuhun PB IX ingin istirahat di sini. Namun saat ini benda peninggalan bersejarah itu hilang dengan dibangunnya proyek Bengawan Solo,” pungkas Gusti Puger.(*)

BERITA REKOMENDASI