Solo Auction Exhibition Meriah

Editor: KRjogja/Gus

SOLO, KRJOGJA.com – Lukisan dekoratif paling banyak diminati peserta lelang lukisan dalam ajang Solo Auction Exhibition

yang digelar di Pendhapi Gedhe Balaikota selama tiga hari hingga Kamis (29/11). Dari 81 lukisan yang dipamerkan, sekitar 50 persen diantaranya laku dalam lelang terbuka, dan sebagian besar berupa lukisan dekoratif. Sedangkan lukisan lain, terutama genre kontemporer, cenderung tak memperoleh penawaran.

Ketua panitia Solo Auction Exhibition, Darmawan, menjawab wartawan, di sela lelang, Kamis (29/11), gelaran pameran lukisan disertai lelang dengan lokasi di luar komunitas kesenian, memang relatif jarang. Pameran lukisan, pada umumnya digelar di pusat kesenian ataupun institusi pendidikan seni, seperti Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Balai Soedjatmoko, kampus Institut Seni Indonesia (ISI) dan sebagainya. Pameran tersebut cenderung sebagai event kesenian, sedangkan 'Solo Auction Exhibition', lebih diarahkan untuk menjembatani kalangan perupa dengan pasar.

Sejauh pengamatannya, selama ini ada semacam kesenjangan antara perupa dengan pasar, kendati banyak pelukis besar berasal dari Solo. Sebut saja pelukis besar masa lalu, seperti Basuki Abdulah, Dullah, Jeihan, dan sebagainya, lahir atau setidaknya belajar melukis di Solo. Pada era sekarang, banyak pula pelukis asal Solo meraih sukses, setelah berkarier di luar kota, seperti Yogyakarta, Bandung, Bali, Jakarta, dan lain-lain. Yang terjadi kemudian, ketika kolektor ataupun pecinta seni rupa berburu lukisan, hampir selalu berkiblat, ke Yogyakarta, Bandung, Bali atau kota lain, sedangkan Solo tak pernah di lirik.

Karenanya, event 'Solo Auction Exhibition' boleh dikatakan sebagai langkah awal menjembatani kalangan perupa Solo dengan pasar. Hubungan antara pasar dan karya, tak mungkin bisa dipisahkan, kendati masing-masing memiliki independensi tanpa harus saling mendikte. Perupa tidak bisa mendikte pasar, demikian pula sebaliknya pasar tidak dapat ,emdikte proses kratif perupa. "Tapi keduanya harus dipertemukan sesuai proporsi masing-masing," ujarnya sembari menyebut, sebagai langkah awal, perupa yang dilibatkan dalam dalam 'Solo Auction Exhibition' sangat beragam, mulai dari pemula hingga senior.

Demikian pula harga yang dipatok dalam lelang, sangat bervariasi mulai dari Rp 1.5 juta hingga Rp 20 juta. Pun karya yang dipamerkan dan dilelang, sangat berragam, seperti dekoratif, realis, ekspresionis, surealis, kontemporer dan lain-lain. "Target pameran dan lelang tidak terlalu muluk, minimal memperkenalkan karya perupa Solo kepada pasar," ujarnya.

Event serupa, kemungkinan digelar secara periodik, sehingga apresiasi dan pasar dapat berjalan beriringan, sehingga memunculkan sisi ekonomi baru, selain pula mendukung uklim penciptaan, terutama dalam seni lukis. Tak menutup kemungkinan, para kolektor suatu saat nanti juga melirik Solo sebagai ladang perburuan, seperti halna kota lain yang telah identik dengan karya lukis. (Hut)

 

BERITA REKOMENDASI