Sragen Ajukan Tambahan 2.000 Guru SD

Editor: Ivan Aditya

SRAGEN, KRJOGJA.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen mengusulkan tambahan dua ribu guru Sekolah Dasar (SD) kepada pemerintah pusat. Usulan itu terpaksa dilakukan mengingat kekurangan guru pengajar khususnya untuk SD, dinilai sudah 'kritis' dan belum teratasi.

Saat ini Pemkab Sragen memiliki total sekitar 10 ribu Aparatur Sipil Negara (ASN). Jumlah itu dirasakan masih belum ideal karena masih banyak kekurangan untuk tenaga teknis kesehatan dan pendidikan. Kekurangan paling banyak terjadi di sektor pendidikan, khususnya guru SD.

Kepala Badan Kepegawaian Daerah, Pendidikan dan Pelatihan (BKDPP) Sragen, Sarwaka Jumat (2/6) mengatakan, pihaknya telah mengusulkan kekurangan guru SD ke pemerintah pusat. "Pastinya kami sudah usulkan kebutuhan dua ribu guru SD. Apakah disetujui atau tidak, tentunya menjadi kewenangan pemerintah pusat," ujarnya.

Menurut Sarwaka, selama ini sekolah yang mengalami kekurangan tenaga guru, mengangkat semacam tenaga honorer untuk menutupi kekurangan tersebut. Hal itu terpaksa dilakukan karena memang tidak ada lagi rekrutmen CPNS untuk tenaga guru. Padahal setiap bulan selalu ada guru yang memasuki masa pensiun.

Jika dirata-rata dalam setiap bulan, terdapat lebih dari 40 ASN yang pensiun atau setahun lebih dari 500 orang. Pada 2016 lalu saja, jumlah ASN yang pensiun sejumlah 518 orang dan dari jumlah itu, paling banyak adalah dari tenaga guru, khususnya guru SD. "Jumlah ASN yang pensiun di tahun ini juga cukup besar, yakni sebanyak 500 orang lebih," tandas Sarwaka.

Untuk tahun ini, Pemkab Sragen mendapatkan tambahan tenaga bidan yang awalnya tenaga pegawai tidak tetap (PTT) dan telah resmi diangkat menjadi ASN. Penyerahan SK mereka telah diberikan oleh Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati, beberapa waktu lalu. Ada 134 orang bidan PTT yang menerima SK pengangkatan dan mereka bertugas di 20 kecamatan di Sragen.

Sementara, Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Sragen, Suwardi mengatakan, di Sragen memang kekurangan tenaga guru dan yang paling banyak dialami di tingkat SD. Bahkan tidak sedikit satu SD hanya memiliki dua atau tiga guru ASN saja. "Ditambah lagi setiap tahun, ada ratusan guru yang pensiun. Kalau tidak ada rekrutmen, lama-lama guru habis," tambahnya. (Sam)

BERITA REKOMENDASI