Stok Minyak Goreng Subsidi Langka di Pasar Tradisional

Editor: Agus Sigit

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Suplayer batasi kiriman minyak goreng bersubsidi satu harga dari pemerintah kepada pedagang pasar tradisional sebanyak dua karton atau paling banyak lima karton per minggu. Jumlah tersebut sangat sedikit dan dikeluhkan. Pedagang terpaksa tetap mengambil minyak goreng non subsidi sebagai tambahan stok untuk memenuhi kebutuhan barang dagangan.

Pedagang Pasar Ir Soekarno Sukoharjo Rosisi, Jumat (11/2) mengatakan, sudah menerapkan satu harga minyak goreng sesuai kebijakan pemerintah pusat sejak beberapa hari lalu. Penerapan dilakukan setelah ada kiriman minyak goreng bersubsidi dari suplayer. Namun demikian, pihak suplayer membatasi jumlah kiriman minyak bersubsidi tersebut.

Pembatasan ini membuat pemenuhan kebutuhan minyak goreng satu harga kurang. Sebab barang begitu dikirim pihak suplayer langsung habis dibeli pembeli. Para pembeli memburu minyak goreng murah karena hanya dijual Rp 14.000 per liter.

Pedagang dengan kondisi tersebut mengaku kesulitan. Sebab pedagang juga membutuhkan tambahan stok barang untuk dijual. Pedagang kemudian terpaksa mengambil barang ke distributor meski dengan harga tinggi karena non subsidi.

Minyak goreng sebagai tambahan stok diambil pedagang dengan harga sekitar Rp 17.000 per liter hingga Rp 19.000 per liter. Meski tidak menerapkan satu harga namun pedagang tetap menjual. Para pembeli yang harus memenuhi kebutuhan terpaksa membeli meski harga tinggi.

“Kalau jatah minyak goreng subsidi sudah habis terpaksa jual non subsidi,” ujarnya.

Tingginya harga minyak goreng tidak hanya terjadi pada kemasan, tapi juga curah. Sebab minyak goreng curah belum dijual satu harga sesuai subsidi pemerintah sebesar Rp 11.500 per liter. Pedagang menjual pada kisaran Rp 17.000 per liter hingga Rp 18.000 per liter.

Pedagang Pasar Kartasura Harto mengatakan, pembatasan kiriman minyak goreng bersubsidi dari suplayer membuat kelangkaan barang. Hal ini membuat pedagang mendapat protes dari pembeli. Sebab stok barang yang masih banyak tersedia justru minyak goreng kemasan non subsidi.

“Saya jual ada dua jenis yang subsidi dan non subsidi. Tapi yang subsidi langsung habis begitu ada kiriman minyak goreng dari suplayer. Barang yang dikirim suplayer dibatasi,” ujarnya.

BERITA REKOMENDASI