Stunting Hambat Perkembangan Ekonomi dan Pembangunan

Editor: KRjogja/Gus

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Dampak stunting tidak hanya merugikan individu tapi juga menghambat ekonomi dan pembangunan. Sehingga, upaya penurunan angka stunting di daerah kritis dipercepat.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Karanganyar Purwati mengatakan daerah kritis stunting antara lain Jumapolo, Jatiyoso, Jenawi dan Karangpandan. Data tersaji pada 2019, angka kasus tinggi di Desa Petung, Tlobo, Kadipiro, Kwangsan dan Gondangmanis.

“Angka prevelensi menurun. Tapi belum benar-benar nol. Faktor-faktor pemicu stunting ada berbagai macam, Tidak hanya soal kemiskinan,” kata Purwati kepada KR, Kamis (15/10).

Berdasarkan angka pravelansi kasus stunting, mengalami tren menurun. Tahun 2016 sebesar 24,1 persen, 2017 sebesar 22,6 persen, 2018 sebesar 13,8 persen dan 2019 sebesar 6,3 persen.

Dikatakannya, stunting sangat berkaitan penyebab kesakitan, kematian, menurunnya daya tahan tubuh, produktifitas, kurangnya kecerdasan dan perkembangan otak suboptimal. Beberapa faktor yang mempengaruhi stunting diantaranya faktor maternal, lingkungan rumah, pemberian makanan, pemberian asi saat menyusui, pola asuh, infeksi, ekonomi, sosial, budaya, sanitasi dan air. Berbagai gangguan fungsi tersebut menghambat perkembangan motorik maupun mental. Jika kasusnya tinggi, maka generasi muda yang diandalkan menjadi penggerak pembangunan dan ekonomi.

BERITA REKOMENDASI