Suguhkan Grup Amatir dan Profesional, SGF Tepis Mindset Kekunoan

SOLO, KRJOGJA.com – Solo Gamelan Festival (SGF) 2019 yang bakal digelar selama dua hari di Beteng Vasternburg mulai Jumat (23/8/2019), diproyeksikan mampu menepis mindset yang menyebut musik tradisional Jawa ini sebagai kuna atau bahkan sekadar klangenan. Padahal, perangkat musik gamelan sebenarnya merupakan ajang kreatif yang dapat dieksplorasi secara leluasa menjadi berbagai warna musik dari klasik hingga bernuansa rock sekalipun.

Baca Juga: Puluhan Pengrawit Mancanegara Kagumi Proses Pembuatan Gamelan

Mengubah mindset yang terlanjur tertanama di angan masyarakat, ungkap koordinator tim kurator SGF, Blacius Subono, menjawab wartawan, di RM Ramayana, Kamis (15/8/2019), memang dapat tak segampang bayangan. Namun suguhan yang hendak ditampilkan dalam SGF kali ini, setidaknya dapat membuka perspektif masyarakat terhadap musik gamelan.

Karenanya, dalam pelaksanaan SGF 2019 ini, panitia melarang penambahan perangkat musik elektronik yang selama ini sering dikolaborasikan dengan gamelan. "Akan kita tunjukkan gamelan tidak selalu tersaji seperti itu saja (maksudnya bernuansa gending klasik-red), tetapi dapat dieksplorasi dengan cara apapun dan bagaimanapun sehingga menghasilkan komposisi yang indah dan kekinian," ujarnya.

Pola garap SGF seperti itu, menurut Subono yang dikenal sebagai komposer gamelan, sekaligus menjawab tindak lanjut International Gamelan Festival (IGF) yang berlangsung tahun lalu. Saat itu, IGF diikuti puluhan grup karawitan dari berbagai manca negara dengan kemasan 'pulang kampung'. Jika waktu itu sajian IGF yang menyuguhkan berbagai karya eksplorasi sesuai daya krativitas masing-masing grup karawitan, dan menyebut dirinya pulang kampung, mesti dijawab keberadaan musik gamelan itu sendiri di kampung halamannya.

Baca Juga: Yogya Gamelan Festival, Angkat 'Gamelan Baru'

Dijadwalkan, penampilan SGF nanti dibagi dalam dua sesi, masing-masing malam pertama menyuguhkan grup karawitan yang mewakili lima kecamatan di Solo. Kendati penampil pada malam pertama digawangi kalangan amatir, menurut Subono, telah dipersiapkan dengan melakukan pendampingan, mulai dari penyusunan aransemen hingga pola garap.

Sedangkan pada malam kedua, akan disuguhkan lima komposer profesional, diantaranya Blacius ubono, Gunarto ondrong, Dedek Wahyudi, Lumbini Trihasto, dan Darno Kartawi. "Dari penampilan dua sesi itu dapat dirasakan, bagaimana gamelan sungguh menjadi ruang kreatif dalam proses penciptaan musik, baik dalam tataran amatir maupun profesional," ujarnya.(Hut)

BERITA TERKAIT