Sulit Air, Bantuan Bibit Padi Gowah Tak Diminati

KARANGANYAR, KRJOGJA.com -Bantuan bibit padi gogo rancah di tanah sawah (Gowah) bagi petani yang terancam gagal panen, nyaris tak terserap. Minimnya air di musim kemarau dipastikan membuat penanamannya sia-sia. 

"Pemerintah sudah menyiapkan bibit gowah. Bisa untuk 1.000 hektare lebih. Tapi, tidak banyak petani korban kekeringan, mengambilnya," kata Kabid Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Karanganyar, Riyanto Sujudi , Selasa (13/8). 

Minimnya air di musim kemarau mendasari para petani itu menolak bantuan padi gowah. Mereka tak mau mengulang gagal panen seperti penanaman sebelumnya. Meski, sebenarnya tak butuh disemaikan. 

"Benih itu bisa ditanam langsung, tidak usah disemai. Salah satu varietasnya adalah benih Inpago yang tahan kering. Pemberian bantuan ini sepaket dengan bantuan pompa air untuk pengairan sawah," katanya.

Meski benih tidak usah disemai dan bisa ditanam langsung, namun di awal masa tanam tetap butuh air.

Persoalannya, di lahan yang kekeringan, tidak ada sumber air yang bisa diambil. Kondisi tersebut dilier dengan bantuan pompa air. Mesin bakal sia-sia pula jika tak ada air yang disedot. 

"Lha mau nyedot air bagaimana, kalau sumber airnya juga tidak ada. Sumur dangkal sudah tidak keluar airnya. Sementara kalau mau buat sumur dalam untuk pengairan sawah, juga tidak diperbolehkan oleh Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian," tuturnya.

Tercatat, sawah seluas 1.032 haktare di Karanganyar terancam gagal panen akibat kekeringan. Dari luasan tersebut, ada 310 hektare mengalami kekeringan berat dan 603 hektare mengalami puso. 

Salah satu petani asal Desa Suruh, Ngadino (63) mengatakan, untuk saat ini dirinya dan beberapa petani di wilayahnya memilih tidak menanam lagi. Pasalnya tidak ada air yang diandalkan untuk mengairi sawah.
“Nanti kalau sudah musim hujan, baru kita menanam lagi,” paparnya.

Petugas Operasi Waduk Delingan, Ganjar Janati mengatakan, pihaknya tidak melayani irigasi hampir dua pekan lalu.

“Itu sesuai kesepakatan saat rapat bersama Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Irigasi dilalukan untuk mensukseskan MT 2. Ini kan sudah masuk MT3,” paparnya.

Dia menjelaskan, memasuki MT3 para petani kebanyakan menanam palawija sehingga tidak terlalu banyak membutuhkan pasokan air.(Lim)

 

BERITA REKOMENDASI