Sultan Pajang : Cara Nguri- Nguri Budaya Jangan Kliru

SOLO, KRJOGJA. com – Geger adanya kraton baru seperti Kraton Agung Sejagad (KAS) dan Sunda Empire di sisi lain menunjukkan ada keinginan positip sebagian masyarakat akan nguri-nguri budaya masa lalu. Namun cara nguri-nguri budaya jangan keliru, bukan membuat kerajaan baru, namun melestarikan budaya yang sudah ada peninggalan leluhur.

"Seperti di kraton Pajang yang lokasinya di bekas situs kraton Pajang di Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo. Sebagai raja atau Sultan tidak mudah .
Setidaknya, ada trah, dinasti, keturunan, kekerabatan."ujar Pengageng Kasultanan Keraton Pajang,
Sultan Prabu Hadiwijaya Khalifatullah IV di Kraton Pajang, Sabtu (18/1/2020).

Dijelaskan oleh Sultan Pajang, Yayasan Kasultanan Keraton Pajang, selain resmi dari Keputusan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia. Selain dasar hukum positip negara ada keabsahan notaris, keputusan Menkumham bernomor  AHU-2190. AHA 01.04 tahun 2011 yang ditandai tangani Syafruddin SH MHum di Jakarta pada 27 April  2011. Menjadikan legalitas Kasultanan Keraton Pajang.

"Juga hukum adat juga menjadi pedoman, Ki Ageng Turus yang masih sepupu dengan Kebo Kenanga, sang ayah dari Joko Tingkir, merupakan leluhur Sultan Prabu Hadiwijaya Khalifatullah IV." katanya.

Di situs bekas Kraton Pajang yang luasnya sekitar 4.000 meter persegi di Makamhaji, Kartasura, tidak hanya terdapat sejumlah bangunan seperti pendapa bekas kraton Pajang, museum serta gedhong pusaka, kayu sempalan gethek (perahu) yang pernah dinaiki Joko Tingkir dan tonggak kayu Donoloyo bekas peninggalan semasa Sultan Hadiwidjaya bertahta. 

"Sejumlah bangunan bekas kraton Pajang itu merupakan warisan budaya benda (tangible cultural heritage). Selain itu terdapat warisan adat istiadat termasuk tarian pusaka dan prosesi adat jumenengan (intangible cultural heritage)  yang mendapat perlindungan sebagai cagar budaya," papar Sultan Pajang. ( Hwa )

BERITA REKOMENDASI