Tak Angker Lagi, nDalem Joyokusuman Jadi Pusat Budaya

NDALEM Joyokusuman di kawasan kampung Gajahan tak jauh dari Keraton Kasunanan Solo, tak lagi kumuh. Kesan angker akibat beberapa bagian bangunan kuna tersebut tak terurus berselimut debu, bahkan mengalami kerusakan parah, seperti sirna begitu saja. 

Kini, rumah berarsitektur Jawa berlantai marmer yang berdiri di atas tanah seluas 11 ribu meter persegi itu, menyiratkan kemegahan, bahkan menggugah bayangan masa lalu atas kejayaan kaum bangsawan pada era kerajaan. 

Setelah rumah milik mantan Kepala Badan Usaha Logistik (Kabulog), Wijanarko Puspoyo ini disita Kejaksaan Agung (Kejagung) terkait kasus korupsi yang kemudian dihibahkan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Solo, dilakukan restorasi dengan menelan dana sekitar Rp 9 miliar. Hingga saat ini, restorasi nDalem Joyokusuman, memang baru separo jalan. Sebab baru menyentuh bangunan utama berupa pendapa, pringgitan, bale peni, bangunan pendukung di sisi samping dan belakang bangunan induk, serta landscape

, sedangkan penataan kawasan luar, masih memerlukan lagi anggaran sekitar Rp 12 miliar.

Kepemilikan nDalem Joyokusuman melalui proses panjang. Semula, rumah yang dibangun tahun 1939 ini, milik  bangsawan Keraton Kasunanan Solo, BKPH Djojokoesomo. Perubahan zaman yang menggerus kejayaan kaum bangsawan, memaksa sang pemilik menjual kepada seorang pengusaha batik, Malkan Sangidoe, sebelum akhirnya berpindah lagi kepemilikan ke tangan mantan Kabulog, Wijanarko Puspoyo. Namun pemilik terakhir terjerat kasus korupsi, hingga nDalem Joyokusuman disita Kejagung, dan sejarang dihibahkan kepada Pemkot Solo.

Rencananya, nDalem Joyokusuman akan dimanfaatkan menjadi pusat pengembangan budaya, tak saja sebatas seni pertunjukan pada umumnya, tetapi juga pusat studi arsitektur Jawa. Kendari proses restorasi baru mencapai separo jalan, namun fasilitas yang tersedia relatif memadai untuk melakukan aktivitas budaya, semisal bangunan pendapa dan pringitan dapat dimanfaatkan untuk panggung pertunjukan, studio arsitektur yang diantaranya menyimpan maket sejumlah bangunan kuna di Solo. Sayangnya, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2018, tak tercantum anggaran restorasi lanjutan nDalem Joyokusuman.

Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmomeminta anggota dewan untuk ikut berjuang mengalokasikan anggaran restorasi lanjutan. Padahal, grand design pengembangan nDalem Joyokusuman telah disiapkan sejak beberapa waktu lalu, diantaranya penataan areal parkir, pembangunan gedung teater dengan mengadopsi Museum Louvre Paris, koridor Gajahan mulai dari gerbang nDalem Joyokusuman hingga Jalan Yos Sudarso yang diprediksikan menelan dana Rp 12 miliar.

Obsesi membangun pusat kegiatan budaya baru, tak bisa hanya separo jalan seperti ini, tegas Rudy, terlebih lokasi nDalem Joyokusuman, relatif tersembunyi di dekat permukiman penduduk. Keberadaan Koridor Gajahan menjadi sangat penting, sebab akan menuntun imaji dari jalan utama memasuki kawasan nDalem Joyokusuman. Pun untuk mendapatkan aset yang semula dibawah penguasaan Kejagung ini, melalui proses perjalanan panjang. (Hari D Utomo)

BERITA REKOMENDASI