Tambal Ban Online Mulai Beroperasi

SOLO, KRJOGJA.com – Aplikasi tambal ban online yang diluncurkan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo Agustus lalu, kini mulai dioperasikan dan dapat diakses melalui telepon pintar. Aplikasi baru yang terintegrasi dengan Solo Destination ini, akan memudahkan masyarakat memperoleh layanan ketika menghadapi masalah ban kempes baik dalam perjalanan maupun di rumah dengan wamtu operasional selama 24 jam.

Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo, menjawab wartawan, saat penyerahan armada tambal ban online, di Balaikota, Senin (10/12/2018), mengungkapkan, fasilitas baru yang diberi tajuk 'Reksa Ban Kempes ini, juga sebagai bentuk terobosan penataan tambal ban kaki lima dengan memanfaatkan teknologi. Dengan armada sepeda motor roda tiga dilengkapi dengan berbagai peralatan, termasuk teknologi Global Positioning System (GPS), penyedia jasa tambal ban tak perlu lagi mangkal di pinggir jalan seperti terjadi selama ini.

Dalam tahap awal, Pemkot Solo mengalokasikan enam unit armada 'Reksa Ban Kempes' tersebar di seluruh wilayah di Solo, masing-masing terdistribusikan satu unit per kecamatan. Penerima bantuan armada 'Reksa Ban Kempes', tambah pria yang akrab disapa Rudy, merupakan penyedia jasa tambal ban yang terkena program penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) serta terdata resmi di Pemkot Solo. Memang belum seluruh penyedia jasa tambal ban yang terkena penertiban memperoleh bantuan armada senilai Rp 35 juta per unit ini, sebab terkait dengan keterbatasan keuangan daerah.

Operasional aplikasi tambal ban online ini, mirip dengan aplikasi sejenis yang diterapkan jasa transportasi, semisal go-Jek, Grab, dan lain-lain. Dalam hal ini, warga yang ingin memperoleh layanan jasa tambal ban online, tinggal membuka aplikasi Solo Destination dan memilih menu tambal ban. Hanya dengan satu kali klik pada menu menu tambal, akan muncul lokasi, nama, dan nomor telepon ataupun WhatsApp penyedia jasa tambal ban online terdekat. Lewat informasi identitas itu, pengguna maupun penyedia jasa tambal ban dapat saling berkomunikasi bersama menentukan transaksi.

Dalam kaitan penataan PKL, keberadaan penyedia jasa tambal ban, menyisakan persoalan tersendiri, sebab mereka tidak bisa direlokasi secara sembarangan. Pedagang kuliner atau komoditas lain dapat dipindahkan ke pasar misalnya atau lokasi lain, tetapi penyedia jasa tambal ban mesti mempertimbangkan aspek pengguna jasa yang terikat dengan jalan raya.

Karenanya, penerapan teknologi informasi yang dapat diakses melalui telepon pintar, menurut Rudy, sebagai solusi terbaik, sehingga penyedia jasa tambal ban tak perlu lagi mangkal dipinggir jalan yang berpotensi mengganggu keindahan maupun arus lalu lintas. Dengan dukungan teknologi, mereka bisa mangkal di rumah masing-masing, atau beroperasi secara mobile sembari menunggu panggilan dari pengguna jasa seperti hal nya go-Jek ataupun Grab.(Hut)

BERITA REKOMENDASI