Tanam Padi Gagal, Petani Panen Melon

MELON menjadi komoditas bercocok tanam bagi petani di Desa Jati, Jaten, di musim tanam pertama tahun ini. Meski butuh biaya tanam ekstra, namun jauh lebih menguntungkan dibanding menanam padi. Apalagi, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) pada padi sudah membuat para petani trauma. Pada musim tanam terakhir, sekitar 80 persen panen rusak diserang tikus dan burung pipit.

Salah seorang pemilik ladang di Dusun Jetis, Riman mengatakan tiga jenis varian melon ditanamnya. Yakni gordes, sakata dan lioni. Diprediksi pada usia 55 hari, tanamannya sudah dapat dipanen. Saat ini, usia tanaman 25 hari.

“Memang biaya tanam sampai panen lebih mahal dari padi. Satu tanaman sekitar Rp 12 ribu. Ada 4.080 batang. Estimasinya sekitat Rp 45 juta sekali tanam sampai panen. Itu hampir dua kali lipat dari padi. Tapi semoga lebih baik,” katanya kepada KR, Jumat (26/2).

Ia menanam melon di lahan seluas 2.500 meter persegi. Sejak awal tanam, ia benar-benar menjaganya dari serangan hama pertanian dan organisme pengganggu tanaman (OPT). Area tanamnya dipasang pagar plastik dan setiap hari disemprot pestisida. Pada panen nanti, ia memprediksi memperoleh 10 ton. “Sekilo melon Rp20 ribu-Rp25 ribu. Itu lebih mahal daripada sekilo beras,” katanya.

BERITA REKOMENDASI