Tekan Stunting, BKKBN Gencar Sosialisasi Pencegahan dari Hulu

Editor: Agus Sigit

SRAGEN, KRJOGJA.com – Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) gencar melakukan sosialisasi pencegahan stunting mulai dari hulu. Kali ini sosialisasi digelar di Desa Puro, Kecamatan Karangmalang, Sragen, Senin (20/6/2022).

Sosialisasi yang digelar bersama mitra kerja ini dihadiri sekitar 150 peserta yang terdiri atas remaja, siswa, mahasiswa, serta ibu-ibu muda. Hadir sebagai pembicara, penyuluh KB ahli utama BKKBN, Drs Eli Kusnaeli MMPd, koordinator pelatihan dan pengembangan BKKBN Povinsi Jateng, Suwarno, serta anggota Komisi IV DPR RI dari PKB, Luluk Nur Hamidah.

Usai sosialisasi, Luluk mengatakan kondisi stunting secara nasional di Indonesia saat ini masih tinggi yakni di angka 24 persen. Angka ini jauh di atas standar yang ditetapkan WHO sebesar 15 persen. Tentunya ini menjadi tanggungjawab bersama pemerintah serta seluruh stakeholder

agar angka stunting bisa ditekan. “Sosialisasi harus digencarkan mulai hulu, tentang arti pentingnya hidup sehat guna mencegah bayi stunting,” ujarnya.

Luluk menilai, ada berbagai faktor penyebab terjadinya stunting yang harus diketahui masyarakat. Selain perilaku pascakelahiran serta kultur yang selama ini terjadi, air dan sanitasi juga harus diperhatikan. Selain itu, penyuluhan bagi pasangan yang akan menikah juga harus ditingkatkan. “Kita juga harus mencegah terjadinya pernikahan dini. Saat ini angka pernikahan dini di Indonesia masih cukup tinggi. Padahal itu sangat beresiko terjadinya stunting,” jelasnya.

Dari sisi parlemen, lanjut Luluk, pihaknya telah mendorong lahirnya rancangan undang-undang (RUU) peningkatan kesejahteraan ibu dan anak yang salah satunya mencakup upaya pencegahan stunting. Intervensi serius harus dilakukan pemerintah lewat UU sehingga angka stunting serta kematian ibu dan bayi bisa ditekan seminim mungkin.

Ditambahkan koordinator pelatihan dan pengembangan (Latbang) BKKBN Provinsi Jateng, Suwarno, angka stunting di Jateng tahun 2020 tercatat sebesar 20,9 persen, lebih rendah dari nasional. Diharapkan pada akhir tahun 2023, angka tersebut bisa ditekan lagi di angka 13 persen.

“Seperti yang terjadi di Sragen ini, setiap tahun bisa ditekan 3 persen sehingga pada akhir 2023 bisa di angka 13 persen,” tandasnya.

Upaya yang dilakukan untuk menekan stunting, jelas Suwarno adalah dengan cara sosialisasi yang masif terutama di kalangan remaja dan calon pasangan muda. Sosialisasi juga dilakukan lewat posyandu, PKK dan elemen lainnya yang melibatkan ibu dan remaja.

Ditambahkannya, Pencegahan stunting bisa dilakukan melalui tiga pendekatan yakni pendampingan pada remaja sebelum menikah, pendampingan ketika sedang hamil, dan pendampingan saat bayi lahir hingga menginjak usia dua tahun. Jika bayi sudah berusia dua tahun, upaya yang dilakukan sudah tidak bisa merubah terjadinya stunting. (Sam)

 

BERITA REKOMENDASI